Simpanan Jumbo Tumbuh 15 Persen Saat Kredit Produktif Melambat

Smallest Font
Largest Font

Likuiditas perbankan nasional mengalami peningkatan pada Juni 2026, namun dana masyarakat tersebut belum menyalur secara optimal ke sektor riil akibat pertumbuhan kredit produktif yang masih terbatas, sebagaimana dilansir dari Investor Daily.

Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) per Juni 2026 mencatat simpanan bersaldo di atas Rp5 miliar tumbuh 15,44% secara tahunan (YoY). Di sisi lain, simpanan di bawah Rp100 juta hanya naik 5,16% YoY, sementara kelompok menengah tumbuh 2% hingga 5% YoY.

Kondisi ini menunjukkan bahwa penambahan dana di perbankan nasional lebih dominan ditopang oleh deposan besar ketimbang sektor ritel.

Pengamat perbankan Dr A Iskandar Zulkarnain menjelaskan bahwa permasalahan utama perbankan saat ini terletak pada distribusi dana yang tidak merata ke sektor usaha.

"Dana tersedia dalam jumlah besar, tetapi belum mengalir secara optimal ke sektor riil," ujar Dr A Iskandar Zulkarnain, Pengamat Perbankan, dalam keterangan pers pada Kamis (6/8/2026).

Ia menambahkan bahwa lonjakan simpanan jumbo menandakan arus kas korporasi masih kuat. Namun, para pelaku usaha cenderung menahan dana di deposito dan giro sebagai bentuk antisipasi ketimbang melakukan ekspansi, sehingga penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan investasi melambat.

Tekanan ekonomi juga melanda sektor rumah tangga. LPS mencatat Indeks Kemauan Menabung berada pada level 90,2, tetapi Indeks Kemampuan Menabung merosot ke posisi 73,2 akibat kenaikan biaya hidup yang menekan daya beli masyarakat kelas menengah.

Fenomena ini memicu penumpukan likuiditas perbankan yang tidak terimbangi oleh penyaluran pembiayaan produktif.

"Dana tersedia dalam jumlah besar, tetapi belum mengalir secara optimal ke sektor riil," kata Dr A Iskandar Zulkarnain, Pengamat Perbankan.

Guna mengatasi persoalan ini, pemerintah didesak mempercepat belanja negara, memperluas insentif UMKM, serta memperkuat perlindungan sosial. Sektor keuangan juga diimbau memanfaatkan inovasi seperti Alternative Credit Scoring (ACS) untuk memperluas akses pembiayaan.

Tanpa penguatan konsumsi dan investasi rumah tangga, pencapaian target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8% diperkirakan bakal menghadapi tantangan berat.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed