Saham BYAN dan Emiten Haji Isam Melesat Ditengah Rumor Akuisisi

Smallest Font
Largest Font

Harga saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dan jajaran emiten yang terafiliasi dengan pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam melonjak tajam pada perdagangan Selasa (18/8/2026) akibat dorongan rumor akuisisi pasar modal.

Penguatan signifikan dicatatkan oleh saham BYAN yang melesat 19,97 persen atau 2.875 poin ke posisi Rp17.275 per saham, setelah dibuka pada level Rp14.400. Riset BRI Danareksa Sekuritas mencatat harga BYAN telah melambung lebih dari 43 persen dalam sepekan terakhir.

Lompatan harga saham tersebut terdorong oleh spekulasi pengambilalihan sekitar 62 persen saham BYAN oleh pihak yang terkait dengan grup usaha Jhonlin. Isu aksi korporasi menguat pascakunjungan Haji Isam bersama pemegang saham pengendali BYAN Dato’ Low Tuck Kwong dan pemilik Republik Korpora Indonesia Norman Joesoef di area tambang Kutai Kartanegara pada Sabtu (15/8/2026).

Sentimen pasar juga dipicu oleh rencana PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) yang menjadwalkan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Senin, 21 September 2026, meski agenda resminya belum diumumkan secara terbuka. Saham JARR sendiri ditutup melonjak 24,88 persen ke level Rp2.510 per saham.

Selain JARR, emiten lain yang terafiliasi Haji Isam turut melaju pada perdagangan sesi I. Saham PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE) meningkat 22,91 persen ke Rp1.690, PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) naik 19,93 persen ke Rp9.175, dan pengelola gerai KFC PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) menguat 8,79 persen ke posisi Rp520.

Meskipun pergerakan harga saham kelompok emiten tersebut kompak naik, kinerja keuangan semester I/2026 menunjukkan performa yang bervariasi. Laba bersih JARR terkoreksi 1,2 persen secara tahunan menjadi Rp159 miliar, PGUN anjlok 47 persen menjadi Rp44 miliar, dan TEBE merosot 26,2 persen menjadi Rp20 miliar, sedangkan FAST berhasil memangkas rugi bersih sebesar 59 persen menjadi Rp57 miliar.

Lonjakan spekulatif pada saham BYAN dan JARR mendapat perhatian dari kalangan analis pasar modal. Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto mengingatkan bahwa histori transaksi akuisisi di masa lalu tidak jarang berakhir mengecewakan para pemodal.

"Kalau isu seperti ini, yang harus memberikan informasi secara transparan kan dari bursa sebenarnya," kata Rully Arya Wisnubroto, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas.

Otoritas bursa dipandang perlu mengambil langkah komunikasi yang lebih aktif guna memverifikasi kebenaran rumor transaksi pengambilalihan emiten tersebut agar tidak merugikan investor ritel.

"Retail investor yang lebih suka hal-hal yang spekulatif," kata Rully Arya Wisnubroto, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas.

Langkah perlindungan dinilai krusial supaya pemodal individu tidak dimanfaatkan oleh oknum yang berniat menggoreng harga saham terafiliasi hingga berisiko menderita kerugian saat rumor tidak terbukti.

"Harus tetap dilindungi juga kan, jangan sampai mereka akhirnya rugi," kata Rully Arya Wisnubroto, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas.

Kendati demikian, kecenderungan pemodal ritel dalam memburu saham berorientasi sentimen masih sangat tinggi di pasar sekunder.

"Tapi tetap aja mereka pada dasarnya senang yang kaya gitu," kata Rully Arya Wisnubroto, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas.

Secara teknikal, BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan momentum bullish BYAN masih terbuka menuju area Rp17.670–18.565 selama harga bertahan di atas Rp16.450. Hingga saat ini, pihak manajemen BYAN belum memberikan konfirmasi resmi terkait rumor pengambilalihan saham tersebut.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed