AchmadNurHidayat.ID — Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) berbalik turun pada sesi I perdagangan Senin (6/7/2026). Pada sekitar pukul 10.40 WIB, harga saham BBRI tercatat melemah 0,74% ke Rp 2.690 per saham.
Volume perdagangan mencapai 85,96 juta saham dengan frekuensi 31.950 kali dan nilai transaksi sekitar Rp 233,13 miliar. Data mencatat net sell sebesar Rp 81,8 miliar.
Proyeksi Harga dan Level Teknis
Kiwoom Sekuritas memperkirakan level teknis saham BBRI untuk perdagangan hari ini, dengan support pertama pada 2.690 dan support kedua di 2.675. Pivot diposisikan di 2.715, sementara resistance pertama dan kedua masing-masing pada 2.730 dan 2.755. Stoploss direkomendasikan di level 2.635.
Kinerja Semester I dan Proyeksi Laba
Analis KB Valbury Sekuritas, Akhmad Nurcahyadi, mencatat arah kinerja BBRI pada semester I-2026 mulai terlihat lebih jelas setelah bank mencetak laba bersih (bank only) yang solid pada periode Januari-April dan Januari-Mei 2026.
“Bahkan jika kami mengasumsikan laba (bank only) Juni 2026 sama dengan laba Mei 2026 sebesar Rp 4,5 triliun, pertumbuhan laba BBRI semester I-2026 masih akan sedikit positif sebesar 0,6% yoy,” tulis Akhmad dalam risetnya.
KB Valbury memproyeksikan laba bersih (bank only) BBRI pada semester I-2026 mencapai Rp 26,59 triliun atau tumbuh 7,25% secara tahunan. Secara konsolidasi, laba bersih semester I-2026 diperkirakan sebesar Rp 28,97 triliun atau meningkat 10,2% yoy.
Akhmad menambahkan estimasi untuk kuartal II-2026 tergolong konservatif. Menurutnya, jika menggunakan angka konsensus untuk kuartal II-2026, pertumbuhan laba semester I-2026 bisa lebih tinggi dari perkiraan KB Valbury.
Rekomendasi dan Valuasi
KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham BBRI dengan target harga berdasarkan Gordon Growth Model sebesar Rp 4.010. Target tersebut setara dengan price to book value (P/B) 1,8 kali untuk proyeksi 2026.
Saat ini, saham BBRI diperdagangkan pada valuasi P/B 2026 sekitar 1,2 kali, yang sedikit di bawah level -2 standar deviasi (-2SD) sebesar 1,5 kali menurut riset yang dikutip.
Katalis Positif dan Risiko
Riset menyoroti beberapa potensi katalis positif bagi BBRI, antara lain pertumbuhan kredit yang lebih tinggi dari ekspektasi disertai penyesuaian imbal hasil kredit secara moderat yang dapat mendorong net interest margin (NIM). Perbaikan kualitas aset yang menekan cost of credit (CoC) dan potensi pendapatan non-bunga yang lebih kuat juga disebut sebagai faktor pendukung pre-provision operating profit (PPOP).
Sementara itu, risiko utama meliputi pertumbuhan kredit yang lebih lemah dari perkiraan, rasio biaya terhadap pendapatan yang lebih tinggi, serta kenaikan pencadangan yang signifikan. Sentimen domestik negatif dan tekanan pada nilai tukar rupiah juga diidentifikasi sebagai faktor yang dapat menekan sentimen pasar terhadap saham BBRI.
Rangkaian proyeksi, rekomendasi, dan risiko tersebut dipertimbangkan oleh analis saat menilai prospek kinerja dan valuasi saham BBRI ke depan.
Ikuti AchmadNurHidayat.ID
