— Nilai tukar rupiah kembali melemah menjelang penutupan perdagangan pada Senin, 6 Juli 2026, mendekati level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (USD).

Pada perdagangan sore itu, rupiah tercatat turun 32 poin atau 0,18% ke posisi Rp17.995 per USD, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.963 per USD.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menyatakan pelemahan berlanjut dipengaruhi oleh sentimen geopolitik, khususnya ketegangan di Eropa Timur dan kondisi yang mulai mereda di Timur Tengah.

“Selain itu, meskipun pasokan fisik terus pulih, risiko geopolitik di sekitar Selat Hormuz tetap menjadi fokus utama. Para pedagang mempertimbangkan sinyal yang saling bertentangan dari Washington dan Teheran mengenai keamanan dan tata kelola jalur air strategis di masa depan setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran telah menyetujui ‘hampir semua yang kita butuhkan’,”

Ibrahim menambahkan, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh rilis data penggajian non-pertanian AS (nonfarm payrolls) bulan Juni yang lebih lemah dari perkiraan, sehingga menimbulkan pertanyaan mengenai ruang bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut.

Meski demikian, ia menilai pelemahan dolar AS dibatasi oleh ketidakpastian atas kebijakan agresif The Fed. Hasil rapat bank sentral bulan Juni menunjukkan dukungan yang meningkat di kalangan pembuat kebijakan untuk suku bunga yang lebih tinggi di tengah inflasi yang masih tinggi.

Fokus Pekan Ini

Ibrahim mencatat risalah rapat Federal Reserve bulan Juni yang akan dirilis pekan ini menjadi perhatian pasar, meski belum jelas seberapa banyak wawasan baru yang dapat diperoleh. Ia menyinggung juga seruan Ketua Fed baru, Kevin Warsh, untuk merombak komunikasi bank sentral dengan publik.

Faktor Domestik

Dari sisi domestik, rupiah melemah setelah respons pasar terhadap laporan Fitch Ratings yang menyoroti kerentanan kondisi makroekonomi Indonesia. Menurut Ibrahim, indikator yang disebut dalam laporan itu meliputi pelemahan nilai tukar, penurunan cadangan devisa, dan arus modal keluar yang masif.

“Namun demikian, perhatian sesungguhnya dari Fitch ialah pada aspek kepercayaan investor yang kian melemah akibat memburuknya tata kelola ekonomi,”