AchmadNurHidayat.ID — Nilai tukar rupiah tetap berada di zona merah pada perdagangan siang hari Senin (6/7/2026). Data pasar spot pada pukul 13.05 WIB mencatat rupiah melemah 31 poin atau 0,17% ke level Rp 17.994 per dolar AS.
Penguatan nilai dolar AS menjadi salah satu sentimen utama yang menekan rupiah, ditambah antisipasi pasar terhadap rilis notulen pertemuan pejabat Federal Reserve yang dijadwalkan pekan depan.
Analis Bank Woori Bersaudara, Rully Nova, memproyeksikan rupiah akan kembali melemah menjelang penutupan perdagangan. “Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah pada kisaran Rp 17.950 – Rp 18.000,” katanya.
Dari sisi domestik, Rully menyebutkan kondisi ekonomi yang kurang menggembirakan turut menjadi beban bagi nilai tukar. Faktor-faktor yang disebut antara lain defisit neraca perdagangan dan posisi cadangan devisa yang akan diumumkan Bank Indonesia.
Proyeksi lain datang dari Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, yang memperkirakan pergerakan rupiah sepekan ke depan berada di rentang Rp 17.850–Rp 18.100 per dolar AS.
Ibrahim menyoroti beberapa risiko eksternal yang dapat memengaruhi arah rupiah, termasuk perkembangan negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah, pergerakan arus minyak mentah di Teluk, serta tanda-tanda pemulihan permintaan setelah libur akhir pekan AS.
Selain itu, rupiah juga merespons data ketenagakerjaan AS terbaru. Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan penambahan 57.000 pekerjaan pada Juni, jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar 110.000.
Data penggajian bulan Mei juga direvisi turun menjadi 129.000 dari angka sebelumnya 172.000, yang turut memberi tekanan pada sentimen pasar mata uang global.
Ikuti AchmadNurHidayat.ID
