Rekind Perkuat Dukungan Pengembangan Industri Panas Bumi Nasional di IIGCE 2026

Smallest Font
Largest Font

PT Rekayasa Industri (Rekind) memperkuat dukungan terhadap pengembangan industri panas bumi nasional melalui partisipasi dalam The 12th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026 yang berlangsung pada 19–21 Agustus 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC).

Rekind hadir bersama PT Timas Suplindo melalui booth Timas-Rekind No. M-113, menegaskan komitmen dalam mendukung ketahanan dan kemandirian energi Indonesia.

Direktur Utama Rekind, Triyani Utaminingsih, menyatakan, "Sejak awal kami berkomitmen untuk menjadi bagian dari perjalanan besar bangsa, salah satunya melalui pemanfaatan panas bumi untuk mewujudkan ketahanan energi sesuai Asta Cita yang dituangkan pemerintah. Karena itu, pengembangan panas bumi tidak hanya berkaitan dengan penyediaan energi bersih, tetapi juga menjadi bagian penting dari upaya memperkuat ketahanan dan kemandirian energi Indonesia."

IIGCE 2026 mengusung tema "Energy Self-Sufficiency for a Stronger Indonesia: Geothermal as the Baseload Driving Energy Transition and Security", yang menjadi ruang pertemuan berbagai pemangku kepentingan industri panas bumi, mulai dari pemerintah, pengembang pembangkit, perusahaan EPC, hingga penyedia teknologi dan jasa pendukung PLTP.

Menurut data dilansir dari Investor Daily, dari total kapasitas PLTP yang sedang dibangun pemerintah sebesar 2.744 MW, sekitar 990,4 MW atau 36,1 persen berasal dari proyek yang dirancang dan dibangun oleh Rekind dengan dukungan para engineer dan tenaga ahli nasional.

Triyani menegaskan, "Sekitar 36,1 persen kapasitas dari PLTP yang dibangun tersebut lahir dari tangan engineer-engineer terbaik Rekind. Ini merupakan bukti nyata kemampuan anak bangsa dalam membangun infrastruktur energi strategis untuk negeri."

Kolaborasi antara Rekind dan Timas diwujudkan dalam Proyek PLTP Salak Unit 7 di Sukabumi, Jawa Barat, dengan kapasitas 1 x 40 MW. Project Manager PLTP Salak 7, Dwi Novianto, mengatakan kerja sama ini telah berlangsung sejak 2024 melalui operasi gabungan (Joint Operation).

Dwi menjelaskan, "Pelaksanaan Proyek PLTP Salak Unit 7 kini telah mencapai sekitar 80 persen dan memasuki tahap peralihan dari konstruksi ke pre-commissioning." Proyek tersebut menghadapi berbagai tantangan teknis dan lokasi, termasuk mobilitas barang besar di area terbatas sekitar 6.000 meter persegi dekat fasilitas yang masih beroperasi.

Ia menambahkan, "Kegiatan yang dilakukan meliputi pengecekan kualitas instalasi, kesiapan sistem, pengujian awal, penyelesaian daftar perbaikan atau punch list, kelengkapan dokumen serah terima, serta persiapan fasilitas untuk proses commissioning."

Dwi menegaskan bahwa pembangunan panas bumi memerlukan kerja sama, ketelitian, pengalaman, serta kemampuan anak bangsa dalam menghadapi tantangan di lapangan. Ia menambahkan, panas bumi bukan hanya tentang menghasilkan listrik, tetapi juga mengolah kekayaan alam Indonesia menjadi kekuatan nasional yang mandiri dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat industri dalam negeri sesuai semangat IIGCE 2026.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed