PTPN I Kembangkan Kemitraan Tembakau Premium di Jember
Budidaya Tembakau Bawah Naungan (TBN) kualitas premium di Desa Ajong, Kabupaten Jember, Jawa Timur kini menjadi pusat perhatian pasar internasional. Komoditas ekspor produksi PTPN I (Persero) Regional 5 ini terus diminati pembeli dari Asia, Eropa, hingga Amerika Latin.
Seperti dilansir dari Investor Daily, PTPN I menerapkan strategi kemitraan inklusif dengan masyarakat sekitar untuk memenuhi lonjakan permintaan global tersebut. Langkah ini diambil guna memperluas serapan tenaga kerja lokal dan mengoptimalkan potensi lahan.
Direktur Utama PTPN I, Dr. Abdul Rivai Ras, menyampaikan bahwa kerja sama dengan warga setempat merupakan penugasan negara yang harus dilaksanakan. Melalui model bisnis ini, petani yang biasa menanam padi atau palawija dilibatkan langsung dalam rantai pasok tembakau dunia.
Kolaborasi agribisnis di Jember tersebut dirancang untuk memberikan keuntungan ganda bagi masyarakat. PTPN I memperkuat posisi ekspor, sementara petani lokal diberdayakan secara profesional di lahan mereka sendiri.
"Melalui skema rotasi komoditas, kami melakukan sewa lahan persawahan warga secara kompetitif, dengan komitmen penuh bahwa aktivitas produksi dan penggarapan di lapangan tetap memberdayakan pemilik lahan itu sendiri. Dengan pola ganda ini, petani berhak mendapatkan uang sewa di depan sekaligus menerima upah dari hasil pekerjaannya. Melalui pendekatan ini, 'praja' alias harga diri mereka sebagai pemilik sawah tetap terjaga seutuhnya. Ini adalah bentuk kolaborasi yang sangat produktif,” ujar Abdul Rivai Ras di Jakarta, Jumat (10/7/2026).
Model kerja sama lahan di Desa Ajong ini diproyeksikan menjadi percontohan nasional bagi pengembangan agribisnis masa depan. Pola kompensasi sewa yang kompetitif memberikan kepastian dana segar bagi keluarga petani sebelum musim tanam dimulai.
Meskipun lahan disewakan untuk operasional korporasi, para petani tetap memegang hak hukum dan fisik atas tanah mereka. Mereka terlibat langsung dalam menjaga aset sekaligus mendapatkan transfer ilmu pertanian modern.
“Petani pemilik lahan pada dasarnya membutuhkan kepastian hasil, keamanan aset yang mereka miliki, dan rasa percaya diri di hadapan orang lain. Hal yang jauh lebih penting dari program ini adalah para petani pemilik lahan palawija dan padi ini, yang umumnya masih menerapkan budidaya tradisional, kini bisa menyerap pengetahuan dan pengalaman langsung dari model pertanian modern, seperti smart farming berbasis science farming. Dengan ilmu yang ditransfer ini, PTPN I (Persero) berharap mereka bisa lebih mandiri dan sejahtera di masa depan,” tambah Rivai.
Melalui perluasan program ini, masyarakat lokal diposisikan sebagai mitra strategis dalam ekonomi sirkular perusahaan. Pola padat karya yang diterapkan terbukti mampu meningkatkan pendapatan warga melalui perpaduan uang sewa dan upah kerja harian.
Manfaat nyata dari program kemitraan ini diakui oleh Supardi (48), salah satu petani pemilik lahan di Desa Ajong yang biasa menanam padi. Menurutnya, sistem sewa lahan padat karya ini menjadi bentuk kolaborasi yang nyata dan inklusif.
"Kami merasa sangat beruntung dengan adanya program kemitraan lahan dari PTPN I Regional 5 ini. Pembayaran kompensasi yang diselesaikan langsung di depan memberikan kepastian bagi kami untuk menjamin kebutuhan keluarga sekaligus menjadi modal bertani di musim berikutnya. Ditambah lagi, kami tidak kehilangan mata pencaharian karena tetap dilibatkan untuk menggarap lahan sendiri dengan upah harian yang sangat layak. Dengan begitu, kami tetap memiliki rasa bangga dan martabat karena mengawal tanah kami sendiri," ungkap Supardi.
Antusiasme masyarakat Jember terhadap program kolaborasi ini terus meningkat di setiap musim tanam. Hal tersebut terlihat dari tingginya partisipasi warga yang menggerakkan kerja sama sewa untuk ratusan hingga ribuan hektare lahan persawahan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow