PT Timah Tbk Buka Peluang Naikkan Rasio Dividen Tahun Buku 2026

Smallest Font
Largest Font

Manajemen PT Timah Tbk (TINS) membuka peluang peningkatan rasio pembayaran dividen untuk tahun buku 2026 melebihi capaian tahun lalu sebesar 50 persen. Potensi lonjakan dividen tersebut terdorong oleh kinerja laba bersih perseroan yang mengalami kenaikan signifikan sepanjang semester pertama 2026, sebagaimana dilansir dari Investor Daily pada Selasa (18/8/2026).

Investment Analyst Stockbit Group Theodorus Melvin menilai dividen menjadi katalis positif lanjutan bagi emiten tambang logam tersebut. Berdasarkan perhitungan konsensus dengan estimasi laba bersih mencapai Rp4,5 triliun dan asumsi rasio pembayaran 50 hingga 60 persen, dividen TINS diperkirakan berkisar antara Rp305 hingga Rp366 per saham.

Proyeksi nilai dividen tersebut memberikan estimasi imbal hasil sebesar 9,4 persen hingga 7,8 persen berpatokan pada harga saham TINS sebesar Rp3.900 per lembar.

"Meski demikian, keputusan akhir mengenai rasio pembayaran dividen tahun buku 2026 tetap berada di tangan pemegang saham," tulis Melvin dalam catatannya pada Selasa (18/8/2026).

Estimasi konsensus laba bersih TINS untuk 2026 sebelumnya telah direvisi naik dari Rp3,9 triliun menjadi Rp4,5 triliun setelah publikasi laporan keuangan semester pertama. Perseroan hanya perlu membukukan laba sekitar Rp1,8 triliun pada semester kedua untuk mencapai target tersebut, atau sekitar 33 persen lebih rendah dibandingkan perolehan semester pertama 2026 yang menembus Rp2,7 triliun.

Kinerja pada enam bulan pertama 2026 tercatat telah melampaui target internal perseroan sebesar 169 persen dari target awal Rp1,6 triliun. Saat ini, manajemen perseroan sedang menyusun ulang panduan kinerja tahunan bersama pemegang saham yang dijadwalkan meluncur pada Agustus atau September 2026.

Dari sisi operasional, volume penjualan pada kuartal ketiga 2026 diproyeksikan stabil pada kisaran 4.975 ton, setara dengan capaian kuartal kedua. Pembatasan volume tersebut dipengaruhi oleh kendala pasokan bijih serta kuota produksi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) di Belitung yang telah habis.

Guna menambah volume produksi, TINS berkoordinasi dengan Kementerian ESDM terkait penambahan RKAB serta memproses operasional empat kapal isap produksi pada kuartal keempat 2026. Perseroan juga memproyeksikan penurunan biaya kas produksi pada semester kedua 2026 seiring ketiadaan pemeliharaan besar pada unit smelter.

Kendati demikian, Stockbit mencatat sejumlah tantangan eksternal seperti proyeksi penurunan harga timah global pada 2027 menjadi US$44.750 per ton. Selain itu, potensi kenaikan royalti, ketaatan aturan Devisa Hasil Ekspor (DHE), serta penyesuaian Harga Patokan Mineral (HPM) menjadi faktor risiko yang dipantau pasar.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed