Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan II-2026 Diproyeksi Melambat Jadi 5,10 Persen
Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan mengalami perlambatan pada triwulan II-2026. Penurunan ini dipicu oleh melemahnya konsumsi rumah tangga pasca-musim liburan serta berkurangnya kontribusi ekspor neto, sebagaimana dikutip dari Investor Daily.
Berdasarkan jajak pendapat Reuters terhadap 28 ekonom yang berlangsung pada 27 Juli hingga 3 Agustus 2026, produk domestik bruto (PDB) Indonesia diproyeksikan tumbuh 5,10% secara tahunan. Capaian tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan triwulan I-2026 yang mencatatkan angka 5,61%.
Secara kuartalan, ekonomi diperkirakan tumbuh 3,50%, membaik dari kontraksi tipis pada periode Januari–Maret. Adapun Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan merilis data resmi pertumbuhan ekonomi ini pada Rabu, 5 Agustus 2026.
Ekonom Senior Asean OCBC Bank, Lavanya Venkateswaran, menjelaskan bahwa perlambatan konsumsi menjadi salah satu faktor utama yang menahan laju pertumbuhan.
"Konsumsi kita melambat, sebagian karena dampak musim liburan, tetapi juga karena dukungan kebijakan fiskal untuk konsumsi belum begitu kuat," kata Lavanya.
Indikasi pelemahan tersebut terlihat dari penjualan ritel yang terkoreksi 3,7% pada April dan 3,9% pada Mei secara tahunan. Penurunan ini mencatatkan kontraksi terdalam dalam tiga tahun terakhir sekaligus menggambarkan penurunan permintaan domestik.
Di samping konsumsi, kontribusi ekspor neto diperkirakan turut menyusut. Kenaikan harga komoditas belum mampu menutupi beban akibat lonjakan impor energi pada April dan Mei yang dipicu konflik AS-Iran.
Kondisi tersebut memperbesar tekanan pada neraca perdagangan nasional. Indonesia mencatatkan defisit perdagangan sebesar US$ 1,61 miliar pada Mei 2026, yang menjadi defisit pertama dalam enam tahun. Data BPS terbaru mengonfirmasi defisit masih berlanjut pada Juni meski nilainya membaik menjadi US$ 450 juta.
"Dibandingkan dengan negara-negara tetangga di kawasan ini, pertumbuhan ekspor Indonesia tidak sekuat itu. Jadi kami memperkirakan hal ini akan terus menjadi penghambat di triwulan kedua," ujar Lavanya.
Sektor belanja pemerintah diperkirakan tetap memberikan sokongan terhadap PDB, meskipun kontribusinya tidak sebesar triwulan I-2026 yang sempat melonjak hampir 22%. Pemerintah sendiri mengalokasikan anggaran subsidi energi sebesar Rp 381,3 triliun atau US$ 21,20 miliar guna meredam dampak lonjakan harga BBM dan listrik akibat ketegangan di Timur Tengah.
Di sisi lain, survei Reuters mengindikasikan ekonomi Indonesia secara umum masih berpeluang menjaga pertumbuhan di kisaran 5% pada beberapa triwulan mendatang. Kendati demikian, tantangan membayang dari tingginya harga energi serta lonjakan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 100 basis poin sejak Mei untuk menopang rupiah yang terdepresiasi lebih dari 7% sepanjang tahun ini.
Ekonom ANZ, Krystal Tan, menilai ekspansi kredit yang kuat belum sepenuhnya cukup untuk menutupi perlambatan aktivitas ekonomi secara menyeluruh.
"Meskipun pertumbuhan kredit tetap kuat, hal ini kemungkinan tidak akan fully mengimbangi tanda-tanda perlambatan aktivitas yang lebih luas," ujar Krystal.
"Ke depan, pengetatan kondisi fiskal baru-baru ini, ketidakpastian eksternal, dan sentimen sektor swasta yang masih berhati-hati kemungkinan akan membatasi laju pertumbuhan," imbuh dia.
Para ekonom turut menyoroti bahwa dinamika pertumbuhan saat ini masih menyisakan pelebaran kesenjangan pendapatan. Capaian tersebut juga masih berada di bawah target pertumbuhan ekonomi 8% yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto untuk tahun 2029.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow