Pertamina Kerja Sama dengan Boeing Kembangkan Ekosistem SAF Indonesia
PT Pertamina (Persero) berkolaborasi dengan Boeing melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) untuk menjajaki pengembangan ekosistem Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Indonesia, Kamis (9/7/2026). Langkah strategis ini dilakukan sebagai bagian dari upaya mendukung dekarbonisasi sektor penerbangan serta mempercepat transisi energi menuju Net Zero Emission (NZE), seperti dilansir dari Detik Finance. Kerja sama tersebut mencakup identifikasi potensi bahan baku (feedstock), pengembangan teknologi, hingga dukungan kebijakan guna mempercepat implementasi avtur ramah lingkungan di tanah air.
"Sejalan dengan visi Asta Cita Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, Indonesia terus mendorong pengembangan SAF sebagai salah satu solusi untuk mengurangi emisi karbon di sektor penerbangan sekaligus mendukung terciptanya industri penerbangan yang lebih berkelanjutan," kata Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri.
Pertamina memproyeksikan potensi besar yang dimiliki Indonesia berdasarkan data regional untuk menjadi pemain utama dalam industri avtur berkelanjutan ini. "Berdasarkan laporan ASEAN 2050 SAF Outlook, Indonesia menempati peringkat tiga besar di ASEAN dengan potensi surplus produksi SAF terbesar yang diproyeksikan mencapai 2,2 juta barel per hari pada tahun 2050," sambung Simon Aloysius Mantiri.
Ia menilai kemitraan dengan perusahaan aviasi global tersebut akan memberikan dampak jangka panjang bagi ketahanan industri aviasi domestik. "Bagi Pertamina, kolaborasi ini bukan sekadar pengembangan bahan bakar, tetapi merupakan investasi jangka panjang untuk membangun ekosistem industri SAF nasional. Dengan potensi sumber daya domestik yang melimpah, kapabilitas pengolahan Pertamina, serta keahlian global Boeing di sektor aviasi," tutur Simon Aloysius Mantiri.
Sinergi ini juga diharapkan dapat menggerakkan roda ekonomi nasional melalui penciptaan nilai tambah baru di sektor energi terbarukan. "Kami optimistis kolaborasi ini akan mempercepat pengembangan industri SAF yang berdaya saing, menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional, sekaligus mendukung dekarbonisasi sektor penerbangan," tambah Simon Aloysius Mantiri. Untuk mewujudkan ekosistem tersebut, sejumlah inisiatif telah berjalan mulai dari sertifikasi produk, uji coba terbang bersama Pelita Air, hingga pengembangan proyek Cilacap Biorefinery oleh PT Pertamina Patra Niaga yang mengolah Used Cooking Oil (UCO) dan limbah lainnya.
"Pertamina sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi berkomitmen mendukung target Net Zero Emission 2060 dan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs)," tutur Simon Aloysius Mantiri.
Seluruh program keberlanjutan usaha ini dijalankan dengan berkoordinasi bersama Danantara sesuai prinsip Environmental, Social & Governance (ESG). "Seluruh upaya tersebut sejalan dengan transformasi Pertamina yang berorientasi pada tata kelola, pelayanan publik, keberlanjutan usaha, dan lingkungan dengan menerapkan prinsip-prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina, berkoordinasi dengan Danantara," sambung Simon Aloysius Mantiri. Di sisi lain, kebutuhan pasar aviasi di Asia Tenggara diperkirakan melonjak tajam dengan pertumbuhan lalu lintas penumpang mencapai rata-rata 7 persen per tahun, yang memicu kebutuhan hingga 4.885 pesawat baru sampai tahun 2044.
Pemanfaatan neat SAF atau bahan bakar murni ini diklaim mampu mereduksi jejak karbon penerbangan hingga 80 persen jika dibandingkan dengan bahan bakar jet konvensional.
"Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis untuk memimpin pengembangan penerbangan berkelanjutan di Asia Tenggara," kata Managing Director Boeing Indonesia, Indra Duivenvoorde. Boeing menyatakan kesiapannya untuk mendukung penuh ekosistem aviasi Indonesia dari hulu hingga hilir, termasuk dalam aspek edukasi sumber daya manusia.
"Kami menyambut baik kolaborasi dengan Pertamina dalam berbagai inisiatif pengembangan SAF, mulai dari identifikasi potensi bahan baku hingga dukungan terhadap program edukasi dan pelatihan guna mempercepat pengembangan ekosistem SAF di Indonesia. Kolaborasi ini diharapkan dapat mendukung masa depan industri penerbangan Indonesia yang lebih berkelanjutan sekaligus memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi nasional," tutup Indra Duivenvoorde.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow