Pengusaha Dukung Program Ketahanan Energi Nasional Lewat Swasembada
Sejumlah pelaku usaha menyatakan dukungan penuh terhadap program go green energy pemerintah guna membangun ketahanan energi nasional yang berkelanjutan di Jakarta pada Jumat (10/7/2026), dilansir dari Investor Daily.
Sektor swasta menilai pelibatan pengusaha lokal dan pembukaan dialog terbuka menjadi kunci penting untuk mengatasi hambatan kebijakan serta pembiayaan di lapangan.
"Go green energy bertujuan membangun fondasi kokoh bagi masa depan energi hijau yang berkelanjutan serta transportasi di Indonesia," kata Owner PT Berkat Cawan Group Albert Junior.
Albert menambahkan bahwa pemerintah perlu membuka ruang diskusi yang intensif dengan para pelaku usaha domestik demi menyelesaikan kendala operasional.
"Dengan dialog terbuka dan intens, maka berbagai kendala dan kebijakan yang ada bisa diselesaikan, termasuk dari sisi pembiayaan," jelas pemilik PT Berkat Cawan Energi ini.
Menurutnya, kolaborasi ini juga harus melibatkan sektor akademisi untuk menyumbang pemikiran serta tenaga terampil, di samping memanfaatkan kemandirian finansial swasta.
"Kuncinya adalah dialog dan kolaborasi," tukasnya.
Di sisi lain, Asosiasi Perusahaan Pemboran Minyak, Gas, dan Panas Bumi Indonesia (APMI) menyoroti kurangnya pelibatan mereka dalam perumusan kebijakan ketahanan energi, padahal anggota asosiasi merupakan penentu keberhasilan program tersebut.
"Target pemerintah untuk swasembada energi memberi harapan baru bagi kebanggaan Indonesia sebagai negara penghasil energi fosil dan terbarukan. Sekaligus menunjukkan bahwa kualitas SDM Indonesia di bidang pengeboran, tidak kalah dengan negara-negara lain," ujar Ketua Umum APMI Suprijonggo Santoso.
Pihak APMI mendukung langkah SKK Migas yang mencatat adanya lebih dari 17.000 sumur minyak dan gas berstatus idle hingga akhir 2025 untuk diaktifkan kembali menggunakan inovasi alat baru bernama SLIM Rig.
"With SLIM Rig, ribuan idle well yang selama ini 'tertidur', dapat dihidupkan kembali dengan efisien dan biaya yang terjangkau," tukasnya.
Penggunaan perangkat modular ini diharapkan mampu memangkas ketergantungan impor dan menekan biaya operasional secara signifikan.
"Kami berharap ada dukungan dari pemerintah untuk karya anak bangsa ini. Setidaknya, pemerintah dapat memberikan kemudahan, fasilitas, dan prasarana pendukung untuk dapat melakukan commissioning dan uji coba peralatan yang sudah siap sejak setahun yang lalu. Dengan begitu, rencana pemerintah untuk membangun Rig Merah Putih dapat segera terwujud dalam waktu dekat," serunya.
Kondisi riil di lapangan juga dipertegas oleh pelaku usaha pabrikasi yang menilai banyak fasilitas pengeboran di dalam negeri yang sudah usang.
"Alat-alat yang digunakan masih dari era 80-an. Sementara dunia lain sudah menggunakan alat yang lebih canggih," tutur pelaku usaha pabrikasi Ir. Doddy Suherman.
Demi menyiasati kendala geografis Indonesia yang didominasi hutan dan pegunungan, inovasi alat yang lebih sederhana dan portabel mulai dikembangkan secara mandiri.
"Saya bersama tim sudah coba membuat RIG pengeboran modural sederhana," urainya.
Fleksibilitas alat pemboran modular ini menjadi poin penting agar pengoperasian di wilayah terpencil menjadi lebih mudah.
"RIG modural dibuat sesederhana mungkin sehingga memudahkan untuk dibawa ke daerah yang sulit dijangkau," tambah pelaku usaha perbengkelan Ahmad Raudin.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow