Pemerintah Didesak Alihkan Insentif BEV ke Industri Komponen
Pemerintah disarankan untuk mengubah arah kebijakan insentif kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) dari pembentukan pasar menuju penguatan industri otomotif nasional. Peneliti Senior LPEM FEB UI Riyanto menyampaikan rekomendasi tersebut dalam Seminar GIIAS 2026 di ICE BSD City, Tangerang, Rabu (5/8/2026), sebagaimana dilansir dari Detik Oto.
Pangsa pasar mobil listrik berbasis baterai di Indonesia saat ini telah menembus angka 16 persen. Pencapaian tersebut dinilai telah melampaui ambang batas kritikal sebesar 10 persen, sehingga pasar dianggap mampu tumbuh secara mandiri tanpa perlu stimulus adopsi konsumen.
"Kalau dari sisi BEV, (pangsa pasar) kita sudah lewat 10%. Kita sekarang 16%. Sudah lewat tipping pointnya, sudah jalur pasar. Kalau dibiarkan secara natural itu sudah bisa berkembang," ungkap Riyanto.
Penguatan industri pendukung dalam negeri menjadi fokus utama seiring tingginya proyeksi tren adopsi kendaraan listrik global. Perubahan peta jalan ini dinilai krusial agar manufaktur lokal memiliki daya saing tinggi saat pasar internasional berkembang pesat.
"Jadi dari sisi roadmap, kaitannya adalah kita tak perlu lagi khawatir untuk memberikan insentif dengan tujuan mengembangkan pasar. Tapi kita harus bergeser, memberikan insentif dengan mengarahkan bagaimana pendalaman industrinya. Itu barangkali yang paling pokok buat kita," ujarnya.
Pertumbuhan pasar EV dunia yang diprediksi bakal melampaui 50 persen menuntut pemerintah untuk segera memfasilitasi kemudahan industri domestik melalui skema insentif terarah.
"Kenapa ini penting? Karena memang BEV atau elektrifikasi ini akan terus berkembang, pasarnya juga akan terus meningkat. Ya, tadi sudah diprediksi juga, nanti barangkali pasar EV dunia akan mencapai 50%, di atas 50% dan seterusnya," katanya.
Sektor manufaktur komponen lokal perlu ditransformasi agar memiliki kedalaman struktur industri yang setara dengan kendaraan berbahan bakar fosil (ICE).
"Jadi kita tidak lagi memikirkan tentang pengembangan pasar, keterjangkauan harga bagi konsumen, tapi juga kita pikirkan daya saing dari industri manufaktur atau industri otomotif kita. Bagaimana kita mulai berpikir mentransformasi dari market, pengembangan pasar, menjadi pendalaman industri komponennya, karena di (kendaraan) ICE, kita sudah cukup dalam industri komponennya," tutup Riyanto.
Sementara itu, pemerintah berencana merilis stimulus anyar bagi kendaraan listrik. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto akan meluncurkan insentif untuk 500 ribu unit mobil dan motor listrik pada Selasa (4/8/2026) di GIAC, ICE-BSD City, Tangerang.
"Saya pikir dua atau tiga pekan dari sekarang, presiden akan meluncurkan stimulus buat kendaraan listrik, termasuk 500 ribu motor dan mobil listrik. 100 persen PPnBM, PPN ya PPN, VAT ditanggung pemerintah, 40 persen untuk kendaraan listrik tertentu," ungkap Purbaya.
Skema rincian insentif tersebut masih dalam tahap perhitungan dan akan menyesuaikan dengan jenis teknologi baterai yang digunakan pada kendaraan.
"Yang baterai nickel base sama lithium base agak beda sedikit," terang Purbaya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow