OJK Ingatkan Masyarakat Tidak Beli Mobil Karena Fomo di GIIAS 2026

Smallest Font
Largest Font

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan masyarakat agar tidak mengambil keputusan membeli mobil hanya karena mengikuti tren atau Fear of Missing Out (Fomo). Imbauan tersebut disampaikan OJK dalam pameran GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di ICE BSD, Tangerang, Minggu (9/8/2026).

Langkah edukasi ini menyikapi pemulihan pasar otomotif nasional yang menunjukkan tren positif. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) yang dilansir dari Investor Daily, penjualan mobil domestik sepanjang semester I-2026 mencapai 436.564 unit, naik 15,9% dibanding periode yang sama tahun lalu. Pada saat yang sama, OJK mencatat piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan tumbuh 1,88% secara tahunan menjadi Rp511,26 triliun per Juni 2026.

Peringatan OJK disampaikan dalam acara bertajuk "Literasi dan Inklusi Keuangan: Cerdas Mengelola Keuangan, Bebas Cemas di Masa Depan" yang diselenggarakan bersama PT Toyota Astra Financial Services (TAF). OJK menyoroti godaan skema pembiayaan, diskon, dan promo uang muka di pameran yang berpotensi memicu perilaku konsumtif impulsif seperti Fomo, Fopo (Fear of Other People's Opinion), Yolo (You Only Live Once), hingga doom spending.

Perwakilan Direktorat Literasi dan Edukasi Keuangan OJK, Enriche Putera Hutama, menegaskan pentingnya penerapan prinsip Legal dan Logis (2L) sebelum mengambil keputusan pembiayaan kendaraan.

"Sementara Logis berarti masyarakat tidak mudah percaya terhadap penawaran yang menjanjikan keuntungan terlalu besar atau tanpa risiko," ucap Enriche Putera Hutama, Perwakilan Direktorat Literasi dan Edukasi Keuangan OJK.

Enriche menambahkan bahwa kesenjangan antara tingkat inklusi dan literasi keuangan masih menjadi tantangan. Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 menunjukkan indeks inklusi mencapai 80,51%, sedangkan indeks literasi keuangan baru mencapai 66,46%. Untuk itu, OJK mendorong masyarakat menentukan prioritas, menghitung kemampuan cicilan, dan menjaga dana darurat.

Upaya peningkatan literasi keuangan ini juga didukung oleh sektor swasta untuk menjaga kualitas kredit industri tetap terkontrol.

"Dan pada akhirnya, itu menciptakan kualitas portofolio yang lebih berkelanjutan bagi industri," ujar Ezar Kumendong, Direktur TAF.

Langkah TAF bersama OJK dalam GIIAS 2026 ini sejalan dengan dukungan terhadap Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GENCARKAN) yang menargetkan tingkat inklusi keuangan nasional mencapai 98% pada 2045. Sepanjang 2025, program GENCARKAN telah menjangkau 4,56 juta peserta melalui 37.203 kegiatan edukasi di seluruh Indonesia.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed