Mirae Asset Sekuritas Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi RI Melambat
Mirae Asset Sekuritas memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 hanya akan mencapai angka 4,8 persen akibat melemahnya permintaan domestik serta kondisi keuangan global yang mengetat.
Proyeksi dari lembaga sekuritas tersebut berada di bawah target yang ditetapkan oleh pemerintah sebesar 5,4 persen, sebagaimana dilansir dari Investor Daily pada Kamis (9/7/2026).
Badan Pusat Statistik mencatat Produk Domestik Bruto Indonesia atas dasar harga berlaku menyentuh Rp 6.187,2 triliun dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,61 persen pada triwulan I-2026.
Penurunan proyeksi ini dipicu oleh pergeseran tantangan moneter global yang beralih pada pengetatan kebijakan suku bunga oleh bank sentral utama dunia.
"Kami merevisi turun proyeksi pertumbuhan PDB menjadi 4,8% pada 2026 dan 4,9% pada 2027, dari sebelumnya 5,0% dan 5,1%. Revisi ini mencerminkan melemahnya permintaan domestik, lingkungan eksternal yang semakin kurang mendukung, serta kondisi keuangan yang lebih ketat," ungkap Kepala Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto.
Lembaga sekuritas ini memperkirakan bahwa Bank Sentral Amerika Serikat masih akan menaikkan suku bunga acuan demi meredam gejolak inflasi global.
"Kami memproyeksikan Federal Reserve akan menaikkan Fed Funds Rate sebanyak dua kali, masing-masing sebesar 25 basis poin (bps) pada September dan Desember, sebagai respons terhadap kembali meningkatnya inflasi," tutur Rully Arya Wisnubroto.
Kondisi eksternal ini memicu tekanan terhadap nilai tukar mata uang rupiah dan membatasi ruang bagi Bank Indonesia untuk melonggarkan kebijakan moneter.
"Dengan nilai tukar yang masih kesulitan menguat, ruang bagi kenaikan suku bunga lebih lanjut semakin terbatas, tepat ketika berbagai indikator domestik mulai menunjukkan perlambatan ekonomi yang lebih nyata," terang Rully Arya Wisnubroto.
Risiko perekonomian semakin diperparah oleh terjadinya defisit kembar pada pos fiskal dan neraca eksternal yang membatasi ruang pemberian stimulus bagi pasar.
"Namun, belum adanya koordinasi yang kuat dan kredibel dengan kebijakan fiskal membuat investor masih meragukan komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas makro ekonomi secara keseluruhan. Akibatnya, premi risiko tetap tinggi dan sentimen pasar masih cenderung berhati-hati," pungkas Rully Arya Wisnubroto.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow