— Kementerian Perhubungan menyatakan dukungan terhadap rencana Danantara Indonesia yang sedang mengkaji pembentukan perusahaan leasing pesawat. Langkah itu dinilai berpotensi memangkas biaya penyewaan sekaligus memperkuat posisi tawar terhadap pabrikan.

Menhub Dudy Purwagandhi mengatakan, menjadi lessor langsung memberi keuntungan negosiasi kepada pembeli pertama dari pabrikan dan dapat memastikan kedatangan pesawat tepat waktu. “Kalau menjadi lessor langsung tentu saja biaya penyewaan pesawat bisa dipangkas termasuk bisa memastikan kedatangan pesawat,” ujarnya.

Peningkatan Daya Tawar Kepada Pabrikan

Dudy menuturkan keuntungan lain dari posisi sebagai lessor adalah adanya bargain sharing, sehingga pihak penyewa memiliki posisi tawar yang lebih kuat saat berhadapan langsung dengan pabrikan. “Karena lessor ini adalah pihak pertama dari pabrikan, jadi jelas akan berhadapan langsung dengan BUMN yang notabene milik pemerintah sehingga keduanya bisa saling mengukur,” kata Dudy.

Selain itu, menurut Dudy, pabrikan tidak akan khawatir soal keterlambatan pembayaran sehingga mereka dapat menawarkan harga yang lebih kompetitif kepada Danantara. “Si pabrikan melihat juga bahwa mereka tidak akan khawatir terhadap pembayaran sehingga mereka yakin. Nah dengan keyakinan itu mereka bisa memberikan harga yang terbaik kepada Danantara untuk mendapatkan pesawat,” jelasnya.

Pembelian 50 Pesawat

Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, menyebut pihaknya tengah mengkaji kemungkinan membuka perusahaan leasing sendiri sebagai bagian dari opsi bisnis terkait rencana pembelian 50 unit pesawat Boeing untuk Garuda Indonesia.

Menurut Dony, pembelian dalam jumlah besar memerlukan berbagai pertimbangan, termasuk jadwal kedatangan pesawat, model bisnis, serta opsi leasing atau pembiayaan. “Kami sedang mengkaji juga kemungkinan Danantara untuk membuka perusahaan leasing sendiri,” kata Dony.

Hingga saat ini, kata Dony, pembentukan lessor masih berada pada tahap kajian untuk menentukan langkah yang paling menguntungkan. “Jadi kami pertimbangkan mana yang paling menguntungkan, gitu,” ujarnya.

Untungkan Maskapai

Analis penerbangan independen Gatot Rahardo menilai jika Danantara menjadi lessor, hal itu bakal menguntungkan maskapai nasional. Gatot menyebut penyewaan melalui lessor domestik berpotensi lebih murah karena menggunakan mata uang rupiah.

“Ini tentu akan menguntungkan maskapai karena selama ini beban maskapai salah satunya ada pada penyewaan pesawat, di mana mayoritas maskapai tidak memiliki armada yang dimiliki, melainkan kepemilikan atas dasar penyewaan (leasing) dengan sistem pembayaran menggunakan mata uang dolar AS,” ucap Gatot.

Gatot menambahkan, Danantara sebagai lessor juga bisa memanfaatkan fasilitas lindung nilai untuk mengantisipasi fluktuasi kurs rupiah. “Kalau kurs mata uang melemah bisa diantisipasi dengan sistem atau fasilitas keuangan yang ada, misalnya lindung nilai (hedging). Dan kepastian maskapai juga lebih memberikan keleluasaan tanpa harus khawatir terhadap krisis,” ujarnya.

Ia menjelaskan skema penyewaan yang umum di Indonesia adalah dry lease dan wet lease. Dry lease biasanya jangka panjang lima sampai sepuluh tahun, sementara wet lease mencakup pesawat, kru, pemeliharaan, dan asuransi untuk kebutuhan jangka pendek.

Gatot menyatakan dukungan pemerintah terhadap kedua skema tersebut memberi fleksibilitas bagi maskapai menambah armada. Namun ia juga mengingatkan implikasi biaya, misalnya apabila maskapai masih harus membayar gaji kru internal saat menggunakan wet lease.

Menurutnya, kehadiran Danantara sebagai lessor diharapkan dapat mengatasi kekurangan armada maskapai nasional, termasuk Garuda Indonesia dan Citilink, yang belum menunjukkan penambahan armada signifikan pasca-COVID-19. “Jadi harapannya ini akan menjawab kebutuhan armada di Tanah Air sehingga dengan potensi pasar penerbangan yang ada bisa digarap maksimal,” pungkasnya.

Mandiri Aviation Leasing Fund

Pada 1 April 2026, Danantara Investment Management, SMBC Aviation Capital, dan Mandiri Investment Management mengumumkan kerja sama untuk mengembangkan Mandiri Aviation Leasing Fund, platform investasi aviation leasing pertama di Indonesia dengan nilai portofolio awal sekitar US$800 juta.

Dalam struktur tersebut, Danantara berperan sebagai investor strategis utama, SMBC Aviation Capital membawa pengalaman operasional di industri leasing, dan Mandiri Investment Management bertindak sebagai pengelola aset investasi. Fund ini dirancang memenuhi standar institusional dan memberi akses investasi ke aset aviasi global.