— PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT) diperkirakan akan menggelontorkan dividen spesial menyusul realisasi penjualan aset fiber senilai Rp11,7 triliun. Hasil transaksi tersebut diprediksi memperkuat posisi kas perusahaan tanpa menghambat rencana ekspansi.

Riset BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) mencatat dana hasil penjualan akan menambah likuiditas ISAT dan bisa digunakan untuk membayar biaya spektrum serta menutup kebutuhan belanja modal (capex).

Perkiraan Penggunaan Dana dan Besaran Dividen

BRIDS memperkirakan biaya spektrum yang harus dipenuhi ISAT mencapai Rp2,4 triliun dalam skenario dasar, dibandingkan Rp1,7 triliun dalam skenario bullish. Sementara akumulasi capex diproyeksikan mencapai Rp4,4 triliun hingga 2028.

“Dengan demikian, ada kelebihan kas berkisar Rp4,9-5,6 triliun yang bisa ditebar sebagai dividen spesial,” tulis BRIDS.

Estimasi Yield, Target Harga, dan Dividen Per Saham

Berdasarkan perhitungan BRIDS, yield dividen spesial ISAT diperkirakan berada di kisaran 7,6–8,7%. Analis menetapkan target harga saham Rp3.000 dengan rekomendasi buy, yang mengimplikasikan dividen spesial per saham sekitar Rp228–261.

BRIDS juga mencatat bahwa saat ini saham ISAT diperdagangkan dengan valuasi murah, yakni sekitar 4 kali EV/EBITDA 2026 dan berada pada -1,4 standar deviasi dari rata-rata tiga tahun. Pembagian dividen spesial disebut sebagai katalis utama bagi pergerakan saham tersebut.

Rincian Transaksi Aset Fiber

Transaksi divestasi melibatkan penjualan saham di PT Infra Fiber Teknologi (IFT) kepada PT Nusantara Fiber Teknologi (NFT) senilai Rp11,7 triliun. Penjualan dilakukan sebanyak 11,7 juta saham atau setara 84,9% dari modal ditempatkan dan disetor IFT.

Selain itu, dilakukan transaksi inbreng atas saham yang dimiliki ISAT dan Lintasarta di IFT secara kumulatif sebanyak 2.083.223 saham atau setara 15,1%. Atas transaksi inbreng tersebut, ISAT dan Lintasarta akan menerima imbalan berupa saham baru yang diterbitkan oleh NFT.

Dengan struktur transaksi ini, kepemilikan efektif ISAT di IFT—secara langsung maupun tidak langsung—tercatat mencapai 49,68%, dan perusahaan mengakui keuntungan transaksi sebesar Rp1,6 triliun.