— Pemerintah mempercepat pengembangan sumber daya manusia (SDM) sebagai strategi utama untuk mendukung laju investasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), termasuk KEK Mandalika. Langkah ini ditempuh melalui penguatan pelatihan vokasi dan program magang yang diarahkan agar ketersediaan tenaga kerja sesuai kebutuhan industri.

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan kebutuhan tenaga kerja kompeten, khususnya di sektor hospitality, seiring meningkatnya aktivitas pariwisata dan masuknya investasi ke kawasan tersebut.

Peran KEK Dalam Pertumbuhan Ekonomi

Menurut Yassierli, KEK merupakan instrumen penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. “Bagi saya, Kawasan Ekonomi Khusus merupakan salah satu instrumen utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Ketika kita berbicara mengenai pertumbuhan ekonomi, salah satu jawabannya adalah KEK, karena memang dibentuk pemerintah untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi,” ujar Yassierli.

Penguatan SDM di KEK Mandalika dilakukan lewat sinergi antara Sekretariat Jenderal Dewan Nasional KEK dan Kementerian Ketenagakerjaan. Kolaborasi ini diarahkan untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,4% pada 2026 dengan meningkatkan produktivitas tenaga kerja serta memperkuat link and match antara pelatihan vokasi dan kebutuhan dunia usaha.

Program Magang dan Alokasi Anggaran

Upaya ini sejalan dengan Paket Stimulus Ekonomi Semester II-2026 yang menempatkan pelatihan vokasi dan pemagangan sebagai instrumen utama untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan mempercepat penyerapan tenaga kerja. Pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 6,26 triliun untuk mendukung pelaksanaan program pemagangan yang dimulai pada Juli 2026.

Yassierli menyatakan program magang juga telah menunjukkan hasil pada pelaksanaan Program Magang Nasional sebelumnya, di mana sekitar 100 ribu peserta mengikuti program dan sekitar 30% mendapat tawaran bekerja dari perusahaan tempat mereka magang.

Data Investasi dan Tantangan Ketersediaan Tenaga Kerja

Realisasi investasi di KEK Mandalika menunjukkan tren positif. Hingga triwulan I-2026, kawasan tersebut mencatat investasi kumulatif sebesar Rp 6,06 triliun dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 20.862 orang, menurut pernyataan Yassierli.

Meski demikian, Yassierli menyoroti masih tingginya mismatch tenaga kerja—baik vertical mismatch maupun horizontal mismatch—di Indonesia. Karena itu, pelatihan perlu diarahkan pada kesiapan kerja (job-ready training) dan dirancang secara tailor-made sesuai kebutuhan riil industri agar mampu menghasilkan tenaga kerja yang kompeten dan siap pakai.