Louis van Gaal Ungkap Alasan Mundur dari Jabatan Adviseur Ajax
Kerumitan struktur organisasi dan birokrasi internal menjadi penyebab utama Louis van Gaal memutuskan mundur dari jabatannya sebagai penasihat Dewan Pengawas (RvC) Ajax Amsterdam. Eks pelatih tim nasional Belanda tersebut menilai keputusan teknis klub terlalu banyak melibatkan pihak yang kurang memahami sepak bola papan atas.
Kritik tajam disampaikan sosok berusia 75 tahun tersebut saat menjelaskan alasan pengunduran dirinya yang dilakukan sejak awal Juli. Ia menganggap proses pengambilan keputusan untuk menentukan pelatih baru maupun rekrutmen pemain berjalan sangat lambat akibat alur manajemen yang berbelit-belit.
Proses pembuatan keputusan teknis di Ajax melibatkan setidaknya 16 orang yang terdiri dari jajaran direksi, dewan pengawas, serta dewan manajemen. Dari seluruh pihak tersebut, hanya dua orang yang dinilai memiliki latar belakang pengalaman nyata di sepak bola tingkat atas.
"Saya adalah seseorang dengan visi yang jelas, selalu seperti itu. Sebagai pelatih, saya berpegang pada aturan, nilai, norma, dan hasil kerja. Jika Anda tidak memberikan hasil, maka Anda harus pergi. Itu pada dasarnya adalah aturan Van Gaal," kata Van Gaal.
Mantan manajer Manchester United itu menegaskan bahwa prinsip kerja tersebut seharusnya diterapkan pada seluruh tingkatan manajemen klub, bukan cuma di dalam lapangan.
"Dalam beberapa tahun terakhir, selalu ada 16 orang yang terlibat dalam pengambilan keputusan tentang masalah kebijakan teknis. Direksi, dewan pengawas, dan dewan manajemen. Itu tidak mungkin!" ujar Van Gaal.
Kondisi ini berakibat pada lambatnya penanganan urusan krusial sepak bola yang membutuhkan tindakan cepat.
"Terlalu banyak waktu yang terbuang untuk membuat keputusan penting, misalnya tentang pengangkatan pelatih atau perekrutan pemain. Kemudian semua orang ikut berbicara, yang menurut saya tidak mengerti sepak bola. Dari 16 orang itu, hanya dua yang memiliki pengalaman di sepak bola level atas. Jadi dari situ saja sudah bermasalah," tutur Van Gaal.
Posisi penasihat yang diembannya sejak Oktober 2023 atas permintaan Michael van Praag juga dianggap tidak memberikan dampak langsung terhadap arah kebijakan klub. Ia merasa masukan teknis darinya diabaikan begitu saja oleh manajemen setelah perubahan struktur kepemimpinan.
"Saya bahkan tidak termasuk dalam 16 orang itu. Saya berada di luar dan tidak memiliki tanggung jawab atau pengaruh apa pun, tetapi mereka ingin saya ikut berpikir," ucap Van Gaal.
Pendapat dan saran dari dirinya berhenti didengar oleh jajaran eksekutif Ajax sesudah Van Praag melepaskan jabatan pimpinan interim.
"Setelah Michael van Praag berhenti sebagai ketua interim RvC, tidak ada lagi nasihat saya yang digunakan di Ajax. Saya menganggap pengalaman sepak bola dalam sebuah organisasi sangat penting. Anda tentu berharap seorang pelatih ingin melakukan sesuatu dengan itu atau seorang direktur teknik menghubungi Anda.
Semua itu tidak terjadi. Jadi saya merasa tidak dihargai oleh Ajax," kata Van Gaal.
Situasi ini memiliki kemiripan dengan pengunduran diri Danny Blind dari jajaran komisaris klub pada awal tahun. Mantan arsitek Bayern Munchen itu merasa kehadirannya di klub hanya dimanfaatkan sebagai pelindung manajemen dari kritik publik.
"Dia ingin memiliki pengaruh lebih besar. Bagi saya: Ajax adalah klub saya dan saya ingin membantunya. Terutama dalam situasi beberapa tahun terakhir," ujar Van Gaal.
Rasa frustrasi makin memuncak karena kekacauan manajemen tidak bisa ia benahi secara langsung dari posisi penasihat eksternal.
"Namun sekarang saya hanya merasa digunakan untuk membentuk tameng. Seperti: kalian kan punya Louis van Gaal? Dia pasti lebih tahu, kan?
Sangat menyebalkan ketika hal-hal buruk terjadi pada klub dan Anda tidak bisa mengubah apa pun. Maka saya juga harus jujur pada diri sendiri dan lebih baik berhenti," kata Van Gaal.
Di sisi lain, perbandingan manajemen dilakukan terhadap tata kelola PSV Eindhoven yang dinilai jauh lebih efektif. Keberadaan jajaran direksi seperti Marcel Brands serta Earnest Stewart yang bekerja berdampingan dengan pelatih Peter Bosz menciptakan garis komunikasi yang singkat dan berfokus penuh pada prestasi olahraga.
"Jika saya melihat dari perspektif saya ke Belanda dan melihat apa yang terjadi di Ajax dan Feyenoord, Anda tidak akan bahagia. Dan itu ada hubungannya dengan struktur organisasi beserta pengambilan keputusan yang dihasilkan. Saya tidak merasa pantas untuk benar-benar menghakimi, tetapi secara umum saya mencatat bahwa para pelatih sering kali tidak memiliki kekuasaan untuk membentuk tim atau skuad sesuai keinginan mereka. Dan saya menganggap pelatih adalah orang terpenting dalam sebuah organisasi," tutur Van Gaal.
Kejelasan peran kepemimpinan dalam menentukan arah permainan tim menjadi kunci keberhasilan tata kelola klub.
"Klub itu memiliki manajemen yang sangat bagus, dengan Marcel Brands yang pernah bekerja bersama saya di AZ. Plus pendahulunya, Toon Gerbrands tentu saja," kata Van Gaal.
Penerapan komunikasi langsung dinilai menjadi keunggulan utama manajemen PSV dalam mendukung kinerja tim utama di lapangan.
"Mereka bekerja dengan garis yang sangat singkat ke direktur teknik Earnest Stewart dan pelatih Peter Bosz, yang mungkin tidak bisa memutuskan segalanya tetapi sangat jelas bertanggung jawab atas gaya permainan tertentu dan didukung penuh dalam hal itu. Begitulah cara Anda mengelola klub papan atas. Sepak bola jelas menjadi hal utama di PSV," ujar Van Gaal.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow