Laba Bersih Lippo Karawaci Melonjak 179 Persen pada Semester I 2026
PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) mencatatkan kenaikan laba bersih yang signifikan pada semester I-2026 meski pendapatan mengalami koreksi. Lonjakan laba bersih perseroan menembus 179,5 persen dibandingkan capaian pada periode yang sama tahun 2025. Berdasarkan laporan keuangan perseroan yang dikutip dari Detik Finance, LPKR mengantongi pendapatan sebesar Rp 3,60 triliun hingga akhir Juni 2026.
Nilai tersebut menurun 14,1 persen dari perolehan semester I-2025 yang mencapai Rp 4,11 triliun. Meski pendapatan terkoreksi, laba bersih LPKR berhasil melesat hingga Rp 385,43 miliar. Perolehan ini tumbuh pesat dari posisi semester I tahun lalu yang sebesar Rp 137,9 miliar.
Pertumbuhan kinerja keuangan perseroan disokong oleh pencapaian pra penjualan senilai Rp 3,70 triliun serta EBITDA sebesar Rp 754 miliar. Capaian EBITDA tersebut meningkat 20 persen dibandingkan Rp 627 miliar pada semester I-2025, dengan posisi kas berada di angka Rp 1,41 triliun.
Pra penjualan di segmen real estate sebesar Rp 3,70 triliun ini telah memenuhi 62 persen dari total target tahunan perseroan. Tingginya permintaan pasar terhadap hunian tapak segmen terjangkau dan menengah menjadi pendorong utama capaian tersebut. Sektor hunian tapak mendominasi dengan kontribusi 79 persen terhadap total pra penjualan. Angka ini menegaskan tingginya minat dari kelompok pembeli rumah pertama maupun pengguna akhir (end-user), yang juga didukung oleh peluncuran Park Serpong Phase 7 & 8 pada semester I-2026.
Penjualan rumah tinggal menjadi kontributor terbesar dengan menyumbang Rp 2,22 triliun. Selanjutnya, penjualan unit komersial menyumbang Rp 464 miliar, kavling tanah sebesar Rp 30 miliar, serta lahan pemakaman San Diego Hills senilai Rp 65 miliar. Fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR) menjadi pilihan utama skema pembiayaan konsumen, dengan porsi mencapai 72 persen dari total penjualan hingga pertengahan tahun 2026.
Pada segmen lifestyle, LPKR meraup pendapatan sebesar Rp 605 miliar dengan laba bruto Rp 490 miliar. EBITDA segmen ini naik 11 persen menjadi Rp 236 miliar dan menghasilkan laba bersih sebesar Rp 131 miliar. Kinerja operasional lini perhotelan terpantau stabil dengan rata-rata tarif kamar sekitar Rp 635 ribu dan tingkat okupansi mencapai 54 persen.
Sementara itu, kunjungan ke pusat perbelanjaan naik 1 persen secara tahunan dengan rata-rata 11,2 juta pengunjung per bulan. "Kami senang melihat momentum positif yang terus berlanjut pada bisnis real estate kami, dengan pra penjualan mencapai Rp3,70 triliun atau setara 62% dari target sepanjang tahun. Permintaan tetap didominasi oleh hunian tapak, khususnya pada segmen rumah terjangkau dan menengah yang menjadi fokus utama strategi kami," ungkap CEO LPKR, John Riady.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow