AchmadNurHidayat.ID — Pasar saham Indonesia dinilai sedang mengalami “diskon besar” pada paruh kedua 2026. Kiwoom Sekuritas menyatakan IHSG tercatat relatif murah dengan price to earnings ratio (PER) 13,1 kali per akhir Juni, di bawah rata-rata lima tahun sekitar 16 kali.
Dalam riset berjudul Market Outlook 2H26: From Cheap Valuation to Re-Rating, Kiwoom menyebut ada peluang re-rating jika sejumlah kondisi terpenuhi. Hingga 29 Juni, IHSG terkontraksi 39,1% secara year to date, sementara investor asing mencatat net sell sebesar Rp 86,8 triliun.
Riset itu menyoroti lima syarat yang dianggap perlu untuk mendorong re-rating: kredibilitas kebijakan, aksesibilitas pasar, tata kelola, mobilitas modal, dan inovasi. “Jika lima aspek tersebut membaik, re-rating akan mengikuti. Jika tidak, valuasi murah hanya akan tetap murah, bahkan dalam waktu yang sangat panjang,” tulis Kiwoom Sekuritas.
Kiwoom memasang target IHSG akhir 2026 di kisaran 7.250–7.700, dengan asumsi terjadi breakout dari zona tren turun sekitar akhir Juli dan didukung faktor musiman. Namun riset juga mengingatkan adanya risiko, termasuk rangkaian pidato presiden yang dijadwalkan pada Juli.
Daftar 9 Saham Pilihan
Kiwoom mengidentifikasi sembilan saham yang dianggap siap menyambut potensi re-rating. Perkiraan potensi kenaikan dihitung dari selisih antara target harga dan harga terakhir.
Vale Indonesia (INCO) — Target Rp 6.300, potensi 37,5%.
- Diuntungkan oleh tren harga nikel global yang resilien.
- Penyelesaian smelter HPAL di Morowali dan Pomalaa ditargetkan tahun ini.
Antam (ANTM) — Target Rp 4.800, potensi 63,8%.
- Rata-rata harga jual pada kuartal I-2026 menguat di segmen emas, nikel, dan bauksit.
- Emas menjadi pendorong utama laba; perusahaan memiliki rasio pembayaran dividen relatif tinggi.
Pantai Indah Kapuk Dua (PANI) — Target Rp 9.925, potensi 66%.
- Utilisasi NICE convention center mulai meningkat.
- Memiliki cadangan lahan besar bervaluasi premium dan rekam jejak marketing sales yang kuat.
- Pembukaan Hotel Hilton ditargetkan 2027.
Bank Rakyat Indonesia (BBRI) — Target Rp 3.600, potensi 32,8%.
- Buyback senilai Rp 500 miliar disebut sebagai sinyal bahwa saham undervalued.
- Memiliki kepemimpinan di segmen UMKM, dana murah, dan permodalan solid.
- Pertumbuhan kredit diperkirakan berakselerasi pada semester II-2026.
Dayamitra Telekomunikasi (MTEL) — Target Rp 705, potensi 43,8%.
- Merger PST-UMT memperluas bisnis ke ISP, IoT, dan infrastruktur digital.
- Buyback saham senilai Rp 2,98 triliun menjadi sinyal keyakinan manajemen.
Jasa Marga (JSMR) — Target Rp 3.850, potensi 40,5%.
- Valuasi berada di bawah rata-rata historis PBV dan EV/EBITDA; harga saham di area support jangka panjang.
- Fundamental defensif dengan arus kas stabil.
Japfa Comfeed Indonesia (JPFA) — Target Rp 3.140, potensi 54,6%.
- Perbaikan volume dan margin; harga ayam hidup mulai stabil.
- Dampak impor bungkil kedelai diperkirakan terbatas bagi perusahaan.
Kalbe Farma (KLBF) — Target Rp 970, potensi 29,3%.
- Pertumbuhan didukung bisnis distribusi, consumer health, dan nutrisi.
- Prinsipal baru dan pertumbuhan ekspor disebut sebagai katalis; PER 9,4 kali dibanding rata-rata historis 16 kali.
Bank Negara Indonesia (BBNI) — Target Rp 4.100, potensi 26%.
- Pertumbuhan kredit solid disertai peningkatan imbal hasil kredit.
- NIM 2026 ditargetkan 3,5–3,8%; LDR tercatat 83,5% dengan cost of funds stabil.
Riset Kiwoom juga mencatat tantangan makro, antara lain pelemahan rupiah yang sempat menembus rekor terlemah dan IHSG yang sempat jatuh di bawah level 6.000 pada akhir Juni. Ke depan, perbaikan kebijakan dan indikator pasar disebut kunci agar valuasi yang murah dapat berubah menjadi re-rating yang nyata.
Ikuti AchmadNurHidayat.ID
