Kebangkrutan Perusahaan Jepang Melonjak hingga 1.028 Kasus pada Juli 2026

Smallest Font
Largest Font

Sebanyak 1.028 perusahaan di Jepang mengalami kebangkrutan sepanjang Juli 2026 akibat krisis tenaga kerja dan tingginya biaya operasional yang mencekik pelaku bisnis skala kecil. Angka tersebut mencatatkan kenaikan sebesar 6,9 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, sebagaimana dilansir dari Detik Finance.

Gelombang penutupan usaha ini menandai bulan kedua secara berturut-turut di mana angka kebangkrutan di Negeri Sakura menembus level 1.000 entitas. Fenomena ini dipicu oleh keterbatasan sumber daya manusia yang berujung pada lonjakan beban gaji, serta inflasi barang yang terus mengikis ketahanan finansial pengusaha lokal.

Berdasarkan data riset, kebangkrutan akibat kelangkaan pekerja menyentuh rekor tertinggi yakni 63 kasus pada bulan tersebut. Sebanyak 36 kasus di antaranya dipicu oleh pembengkakan biaya personel yang melonjak hingga dua kali lipat dibanding tahun lalu.

"Kenaikan gaji tidak dapat dihindari untuk mengamankan pekerja, tetapi perusahaan memperburuk arus kas mereka dengan menaikkan upah di luar kemampuan mereka ketika mereka tidak mampu menghasilkan pendapatan yang cukup," kata pejabat dari Teikoku Databank Ltd.

Tekanan ekonomi juga diperparah oleh pelemahan nilai tukar yen yang mendorong kenaikan harga barang. Kondisi tersebut memicu 93 kasus kebangkrutan tambahan pada Juli 2026, yang menjadi angka tertinggi sejak tahun 2022.

Selain faktor makroekonomi, kejatuhan penyedia jasa pembayaran kartu kredit asal Osaka, Zentoshin, turut mempercepat keterpurukan sektor UMKM. Banyak usaha restoran dan ritel kecil mengalami gangguan likuiditas serius karena bergantung pada penyelesaian transaksi cepat dari lembaga keuangan tersebut.

"Perusahaan tersebut, yang terutama menyediakan layanan penyelesaian cepat penjualan kartu kredit untuk restoran dan pedagang lainnya, mengajukan permohonan kebangkrutan pada bulan Juli dengan kewajiban sebesar 115,16 miliar yen, menjadikannya kemungkinan kebangkrutan terbesar di negara itu sejauh tahun ini," kata pejabat dari Teikoku Databank Ltd.

Secara keseluruhan, akumulasi kewajiban dari seluruh perusahaan yang dinyatakan bangkrut selama Juli 2026 mencapai 236,3 miliar yen atau setara Rp 26,22 triliun. Total nilai kerugian finansial tersebut melonjak tajam hingga 41,4 persen secara tahunan.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed