Kebakaran Hutan TNBTS Hanguskan 942 Hektare Lahan di Bromo

Smallest Font
Largest Font

Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru melahap 942 hektare area hingga Kamis (13/8/2026), sebagaimana dilansir dari Detikcom. Kobaran api dilaporkan masih menjalar di beberapa lokasi kawasan konservasi tersebut.

Titik api melanda kawasan Dengklik, Penanjakan, dan Tosari. Pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Timur memfokuskan penanganan pada area-area tersebut untuk mencegah penyebaran api yang lebih luas.

Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto menyampaikan perkembangan penanganan di lapangan.

"Alhamdulillah untuk sektor P-30 sudah tidak ditemukan lagi titik api sejak pagi tadi. Namun kami masih melakukan pemantauan ketat di beberapa titik lain," ujar Gatot Soebroto, Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur.

Insiden ini menarik perhatian kalangan akademisi. Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University Prof Bambang Hero Saharjo menegaskan pentingnya pemantauan sejak awal.

"Pemantauan terhadap indikasi terjadinya kebakaran harus dilakukan sedini mungkin dan sepasti mungkin. Tujuannya untuk menghentikan seluruh potensi api yang akan berkembang menjadi api besar," ujar Bambang Hero Saharjo, Guru Besar IPB University.

Bambang menjelaskan bahwa kondisi vegetasi kering di area terbuka menjadi faktor mempercepat penjalaran api di TNBTS.

"Kondisi geografis TNBTS yang menyerupai bentuk kuali turut memengaruhi pola penjalaran api. Perubahan arah dan kecepatan angin dapat membuat pergerakan api sulit diprediksi. Kondisi tersebut semakin berisiko ketika bahan bakar berupa vegetasi kering tersedia dalam jumlah besar," ungkap Bambang Hero Saharjo, Guru Besar IPB University.

Menurutnya, proses pemadaman memerlukan penggabungan strategi darat dan udara agar dampak kerusakan ekologis tidak meluas.

"Risiko tersebut menjadi semakin penting karena TNBTS memiliki vegetasi khas pada berbagai ketinggian, mulai dari puspa, rasamala, dan saninten di zona pegunungan bawah hingga cemara gunung, edelweis Jawa, dan cantigi di zona pegunungan atas," ujarnya Bambang Hero Saharjo, Guru Besar IPB University.

Guna mencegah kejadian serupa, Bambang mengingatkan pentingnya pembekalan edukasi pencegahan kebakaran kepada masyarakat luas.

"Pengendalian kebakaran harus dilakukan secara sungguh-sungguh, mulai dari pencegahan, pemadaman, hingga penanganan pascakebakaran. Kebakaran besar tahun 2023 semestinya menjadi cermin untuk melakukan perubahan agar kejadian serupa tidak berulang," ucap Bambang Hero Saharjo, Guru Besar IPB University.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed