Jepang Kembangkan Alat Pemadam Api Ramah Lingkungan untuk Karhutla
Jepang mengembangkan alat pemadam api ramah lingkungan untuk memerangi kebakaran hutan dan lahan yang parah, dengan penggunaan air yang lebih sedikit. Badan Manajemen Kebakaran dan Bencana (FDMA) mencatat lebih dari 5.200 hektare lahan di Jepang utara terbakar pada awal 2025, kebakaran terbesar dalam tiga dekade terakhir, menurut BBC. Negara ini menghadapi keringnya cuaca dan banyaknya daun kering sebagai pemicu kebakaran, sehingga inovasi bahan pemadam ramah lingkungan sangat penting.
Pada 2007, produsen sabun di Kitakyushu, Prefektur Fukuoka, bekerja sama dengan peneliti dan pemerintah menghasilkan busa pemadam kebakaran berbasis sabun pertama di dunia, dilansir dari laman The Government of Japan.
Busa ini dibuat dari surfaktan alami berbahan nabati dan mikroorganisme yang cepat terurai secara hayati, sehingga dampak lingkungan sangat berkurang. Keunggulan busa ini adalah penggunaan air jauh lebih sedikit dibandingkan pemadaman dengan air biasa.
Kelompok riset Universitas Kitakyushu menguji lebih dari 800 formulasi selama tujuh tahun untuk memastikan bahan yang paling ramah lingkungan dan mengatasi risiko korosi pada logam. Setelah uji coba lapangan berhasil, Jepang menunjukkan komitmen kuat terhadap pengembangan produk ramah lingkungan.
Pada 2013-2015, proyek Japan International Cooperation Agency (JICA) melakukan survei dan verifikasi penggunaan teknologi ini pada kebakaran lahan gambut di Indonesia, khususnya Kalimantan Tengah, sejak 2011 dan dikembangkan bertahap hingga 2018. Survei menyatakan, "Busa pemadam kebakaran berbahan dasar sabun dapat menjadi agen yang efektif untuk memadamkan kebakaran lahan gambut karena kinerja pemadam apinya yang tinggi dan dampak lingkungan yang rendah," tulis survei tersebut. Teknologi ini menjaga permeabilitas tinggi yang membantu kelembapan mencapai bara api dalam gambut.
Produsen busa sabun Jepang menyatakan bahwa penyebaran luas alat pemadam ramah lingkungan ini dapat mendukung pemulihan dan pelestarian lingkungan di masa depan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow