Harga CPO Bursa Malaysia 16 Juli 2026 Menguat Berkat Prospek Ekspor
Harga kontrak Crude Palm Oil atau CPO di Bursa Malaysia Derivatives mengalami penguatan pada perdagangan Kamis 16 Juli 2026. Tren positif ini membalikkan pelemahan yang sempat terjadi pada beberapa sesi transaksi sebelumnya. Dilansir dari Investor Daily, perbaikan prospek ekspor kelapa sawit menjadi katalis utama kenaikan harga.
Hal ini sejalan dengan meningkatnya angka permintaan dari pasar internasional. Data perusahaan survei kargo menunjukkan pengiriman minyak sawit Malaysia sepanjang 1 hingga 15 Juli meningkat. Kenaikan tercatat berkisar antara 4 persen hingga 12,4 persen dibandingkan periode yang sama pada Juni.
Pemerintah Malaysia juga telah menaikkan harga referensi minyak kelapa sawit untuk periode Agustus. Meski demikian, kebijakan bea keluar tetap dipertahankan pada level 10 persen sehingga tidak memberatkan para eksportir.
Faktor lain yang menyokong harga komoditas ini adalah tingginya harga minyak mentah dunia akibat gangguan pasokan di Selat Hormuz. Kondisi ini membuat minyak sawit menjadi lebih menarik sebagai bahan baku biodiesel. Peningkatan harga terjadi secara merata pada berbagai tenor kontrak berjangka kelapa sawit di Bursa Malaysia Derivatives pada penutupan perdagangan tersebut.
| Tenor Kontrak Berjangka | Kenaikan (Ringgit Malaysia) | Harga Akhir per Ton (Ringgit Malaysia) |
|---|---|---|
| Agustus 2026 | 7 | 4.537 |
| September 2026 | 5 | 4.574 |
| Oktober 2026 | 5 | 4.606 |
| November 2026 | 5 | 4.637 |
| Desember 2026 | 3 | 4.668 |
| Januari 2027 | 3 | 4.701 |
Faktor Pembatas Penguatan CPO
Meskipun ditutup menguat, laju apresiasi harga CPO masih dibatasi oleh penguatan nilai tukar ringgit Malaysia. Mata uang yang lebih kuat membuat harga komoditas menjadi lebih mahal bagi para pembeli global. Tekanan tambahan juga datang dari koreksi harga minyak nabati pesaing. Penurunan harga terpantau terjadi di Bursa Dalian China serta Chicago Board of Trade Amerika Serikat.
Sentimen negatif lain dipicu oleh melemahnya proyeksi penyerapan dari dua negara importir terbesar dunia, yakni India dan China. Volume impor minyak sawit India pada Juni merosot ke level terendah dalam 14 bulan karena menyempitnya selisih harga dengan minyak nabati alternatif. Di sisi lain, laju pertumbuhan ekonomi China pada kuartal II-2026 melambat hingga menyentuh titik terendah sejak akhir 2022. Perlambatan ekonomi ini memicu kekhawatiran pasar atas potensi penurunan permintaan minyak kelapa sawit dalam beberapa bulan mendatang.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow