Energi Mega Persada Siapkan Blok Gebang Mulai Produksi Gas Semester I-2027

Smallest Font
Largest Font

PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) bersiap memulai produksi gas di Blok Gebang, Langkat, Sumatra Utara, pada semester I-2027 dengan volume awal sekitar 40 juta kaki kubik gas per hari (Mmscfd), mewakili 15% dari total produksi gas perseroan saat ini, dilansir dari Investor Daily.

Perseroan menargetkan produksi gas di Blok Gebang meningkat hingga 100 Mmscfd pada awal 2030, yang mencerminkan separuh dari total produksi gas ENRG saat ini.

"Jadi, sangat signifikan katalis positif dari aset Gebang ini," ujar Herwin W. Hidayat, Kepala Investor Relations PT Energi Mega Persada Tbk, dalam diskusi virtual yang digelar BRI Danareksa Sekuritas, Kamis (13/8/2026).

Selain itu, ENRG menemukan cadangan minyak dan gas baru pada akhir 2025 dan awal 2026 di empat blok, yaitu Blok Bentu (Riau), Selat Malaka, South CPP (Riau), dan Blok Sengkang (Sulawesi Selatan). Namun, Herwin mengingatkan bahwa temuan ini masih harus dikonfirmasi untuk dapat ditingkatkan menjadi contingent resources atau contingent reserves.

Hingga kini, ENRG memiliki 13 aset blok migas, dengan 12 di Indonesia dan 1 di Mozambik, Afrika. Sebanyak 9 aset sudah berstatus produksi komersial, sedangkan 4 lainnya masih dalam tahap pengembangan atau eksplorasi.

Untuk strategi pertumbuhan, Herwin menyatakan bahwa ENRG lebih mengutamakan akuisisi aset daripada membangun dari nol (greenfield) guna menambah produksi komersial dan menghemat belanja modal.

"Kami sudah menjalankan strategi ini sejak 2024 dengan mengakuisisi Blok Siak dan Kampar, serta memperbesar kepemilikan di Blok Sengkang dari 49% menjadi 100%." ujar Herwin.

ENRG juga menjalin kemitraan strategis dengan perusahaan BUMN asal Jepang, Japex, pada 2025 untuk mengoperasikan dan memonetisasi Blok Gebang. Saat ini kepemilikan di Blok Gebang menjadi 50%-50% antara ENRG dan Japex.

"Kami cukup yakin aset Gebang dapat mulai beroperasi di semester I-2027," tambah Herwin.

Sebagai tambahan, Japex memberikan pinjaman kepada joint venture ENRG-Japex dengan plafon sekitar US$110 juta plus bunga yang kompetitif.

Wakil Direktur Utama dan CFO ENRG, Edoardus Ardianto, menyatakan bahwa dalam 3-5 tahun ke depan, perseroan fokus mengembangkan pertumbuhan organik terutama pada aset gas yang sudah maupun akan berproduksi, dan tidak menutup kemungkinan akuisisi blok minyak jika memenuhi kriteria investasi.

"Kami memproyeksikan kontribusi produksi gas masih di atas 70% dalam 3-5 tahun ke depan," ujar Edoardus.

Fundamental Analyst BRI Danareksa Sekuritas, Abida M. Armand, mencermati banyak katalis positif bagi ENRG seiring temuan cadangan migas dan aksi korporasi seperti private placement Juni 2026 dan rights issue Agustus 2026 yang menawarkan 13,28 miliar saham baru.

Rights issue ini berpotensi meraup dana Rp4,12 triliun dengan Bakrie Kalila Investment sebagai standby buyer yang siap membeli 10,5 miliar saham.

Abida menyebut kenaikan harga minyak global yang kini rata-rata US$87 per barel juga menguntungkan ENRG, meski 80% pendapatan perseroan berasal dari gas sehingga volatilitas harga minyak tidak terlalu berdampak besar.

"Setiap kenaikan US$5 per barel akan mendongkrak laba bersih sekitar 4%." ujar Abida.

Untuk target harga saham, Abida menyampaikan saat ini berada di kisaran Rp1.300-an dengan valuasi di Rp1.500 sampai Rp1.700, dan potensi kenaikan sekitar 20% setelah rights issue.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed