Imbal Hasil Dividen Saham Ungguli Deposito di Tengah Pembagian Laba

Smallest Font
Largest Font

Imbal hasil bersih dari dividen sejumlah saham di Bursa Efek Indonesia tercatat melampaui bunga deposito perbankan sehingga berpotensi memicu penataan ulang portofolio investor pada Juli 2026.

Data Bank Indonesia menunjukkan rata-rata bunga deposito tenor satu bulan pada Mei 2026 sebesar 4,26 persen dan tenor 12 bulan 4,5 persen. Setelah dikurangi pajak 20 persen, imbal hasil bersih deposito setahun masing-masing hanya berkisar 3,0 persen hingga 3,6 persen.

Sebaliknya, sejumlah saham menawarkan dividend yield kotor sekitar 5 persen hingga 8 persen. Dengan potongan pajak dividen sebesar 10 persen, investor masih bisa memperoleh imbal hasil bersih sekitar 4,5 persen hingga 7,2 persen.

Tiga emiten bahkan terpantau mencairkan dividen tunai tahun buku 2025 secara serentak pada Kamis, 16 Juli 2026. PT Galva Technologies Tbk membagikan Rp10 per saham dengan yield 3,36 persen, PT Duta Pertiwi Tbk membagikan Rp480 per saham dengan yield 11,74 persen, dan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk membagikan Rp4 per saham dengan yield 2,6 persen.

Meskipun menawarkan hasil yang menarik, instrumen saham dinilai memiliki karakteristik risiko yang berbeda dengan produk perbankan tradisional.

"Dividend yield bukan merupakan return yang pasti seperti bunga deposito. Karena dividen bergantung pada kinerja perusahaan dan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), sementara harga saham juga berfluktuasi sehingga total return dapat berubah sewaktu-waktu," ujar Nafan Aji Gusfa, Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas kepada Kontan.co.id pada Senin, 13 Juli 2026.

Nafan menambahkan bahwa potensi perpindahan dana dari deposito ke pasar modal kemungkinan besar hanya bersifat rebalancing portofolio, terutama oleh investor dengan profil risiko agresif yang mengincar imbal hasil lebih tinggi.

"Secara keseluruhan, kondisi saat ini lebih mencerminkan rebalancing portofolio daripada perpindahan dana secara besar-besaran dari deposito ke pasar saham. Deposito dan saham dividen tetap memiliki fungsi yang saling melengkapi dalam strategi diversifikasi investasi," ujarnya.

Kondisi selisih imbal hasil yang lebar ini juga menjadi perhatian dari sektor perbankan selaku penghimpun dana pihak ketiga.

"Potensi pergeseran dana dari deposito ke pasar modal memang ada, tetapi saya melihatnya lebih bersifat selektif, bukan perpindahan besar-besaran," ujar Josua Pardede, Kepala Ekonom Permata Bank.

Josua menjelaskan bahwa tekanan bagi perbankan dapat meningkat jika selisih imbal hasil tersebut terus melebar, karena bank harus menawarkan bunga deposito lebih tinggi demi mempertahankan deposan besar.

"Fokus kami tetap di CASA untuk dana yang lebih murah. Pengelolaan likuiditas yang lebih efisien menjadi semakin penting karena NIM akan tetap menantang," kata Lani Darmawan, Presiden Direktur CIMB Niaga.

Lani menjelaskan bahwa mayoritas masyarakat di segmen mass market masih cenderung memilih tabungan dan deposito karena nominal penempatannya yang relatif kecil.

"Allo Bank tetap menyesuaikan kenaikan suku bunga secara selektif agar kenaikan cost of fund tidak membebani nasabah kredit," ujar Ganda Raharja Rusli, Direktur Risiko, Kepatuhan, dan Hukum Allo Bank.

Ganda menyatakan bahwa penawaran suku bunga spesial untuk deposito di perbankan saat ini lebih dipengaruhi oleh persaingan likuiditas setelah penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia yang menyerap dana besar dari pasar.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed