BPI Danantara Tangani Masalah Keuangan KAI Buntut Kerugian KCJB

Smallest Font
Largest Font

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau BPI Danantara mulai mengambil langkah untuk menangani krisis keuangan yang dialami PT Kereta Api Indonesia Persero atau KAI. Tekanan finansial tersebut dipicu oleh beban proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau KCJB Whoosh, dilansir dari Detik Finance. Pengoperasian proyek tersebut berada di bawah kendali PT Kereta Cepat Indonesia-China atau KCIC.

Kerugian operasional ini memberikan dampak langsung terhadap catatan finansial KAI sebagai BUMN yang menanggung beban tersebut. Berdasarkan laporan keuangan perseroan, Pilar Sinergi BUMN Indonesia mencatatkan lonjakan rugi hingga mencapai Rp 5,13 triliun. Selain itu, total liabilitas Pilar Sinergi BUMN Indonesia tercatat membengkak hingga Rp 21,54 triliun, melampaui jumlah asetnya yang berada di angka Rp 21,52 triliun.

Chief Operating Officer BPI Danantara Dony Oskaria menyatakan bahwa lembaga baru tersebut tengah bekerja keras memberesi berbagai krisis keuangan yang melanda sejumlah BUMN. Namun, ia menekankan bahwa penanganan tidak dapat dilakukan secara instan mengingat keterbatasan daya penyelesaian yang dimiliki.

"Kami yang baru ini kan sebetulnya menyelesaikan problem-problem yang ada ya. Problem-problem ini kan sudah ada sebelumnya dengan dimensi yang luar biasa besarnya kan. Nah tentu energinya juga terbatas, satu-satu harus diberesin," ujar Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara, Dony Oskaria, kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (31/7/2026).

Dony mengungkapkan bahwa pembenahan saat ini dilakukan secara bertahap pada beberapa perusahaan pelat merah. Selain menata beban KAI, Danantara juga sedang merapikan masalah keuangan di PT Pos Indonesia Persero serta PT Adhi Commuter Properti Tbk atau ADCP.

"Itu masih satu-satu diberesin, itu kan peninggalan-peninggalan yang harus dibereskan pada dasarnya. Jadi sabar, satu-satu saya juga punya keterbatasan energi," terang Dony. Tekanan dari lini usaha kereta cepat berimbas signifikan pada anjloknya kinerja keuangan KAI hingga semester pertama 2026. Laba bersih BUMN transportasi ini merosot tajam sebesar 74,12 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Padahal, perolehan pendapatan KAI sepanjang semester I-2026 masih membukukan pertumbuhan positif. Total pendapatan perseroan tercatat naik 6,6 persen menjadi Rp 17,95 triliun, jika dibandingkan perolehan semester pertama tahun lalu sebesar Rp 16,84 triliun. Di sisi lain, perolehan laba usaha KAI juga mencatatkan kenaikan dari Rp 3,70 triliun menjadi Rp 4,66 triliun.

Meski demikian, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk KAI tergerus dari Rp 1,17 triliun menjadi Rp 305,37 miliar pada akhir Juni 2026. Secara keseluruhan, jumlah aset yang dikelola KAI sampai dengan Juni 2026 menyentuh angka Rp 104,79 triliun. Sementara itu, total liabilitas perseroan tercatat sebesar Rp 65,10 triliun dengan posisi ekuitas sebesar Rp 39,68 triliun.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed