BMKG Memprediksi Suhu Kota Bekasi Mencapai 28 Derajat Celsius
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan suhu udara di Kota Bekasi menyentuh 28,0 derajat Celsius dengan kondisi langit cerah berawan pada Minggu (12/7/2026). Fenomena ini menjadi bagian dari dinamika cuaca musim kemarau yang menyebabkan perbedaan suhu drastis antara siang yang terik dan malam yang dingin.
Dilansir dari Databoks, suhu tersebut masih tergolong wajar bagi Kota Bekasi karena rekor terpanas wilayah ini pernah tercatat mencapai 38,9 derajat Celsius pada 17 Oktober 2023 berdasarkan reanalisis iklim ERA5. Namun, dalam jangka panjang sejak 1940 hingga 2026, rata-rata suhu harian Kota Bekasi tercatat naik 1,4 derajat Celsius dari 26,0 derajat Celsius menjadi 27,4 derajat Celsius sejalan dengan laju pemanasan global.
Kondisi terik pada siang hari dan dingin pada malam hari di wilayah Jabodetabek ini sempat ramai diperbincangkan warga di media sosial. CNNIndonesia melaporkan bahwa data BMKG menunjukkan kelembapan udara di Jakarta dan sekitarnya berada di angka 76 persen dengan kecepatan angin 1,9 km/jam pada Jumat (10/7) malam, dengan suhu berkisar antara 25 hingga 28 derajat Celsius.
Menurut BMKG, fenomena suhu dingin pada malam hingga pagi hari di musim kemarau ini dikenal sebagai fenomena Bediding yang dipicu oleh Angin Monsun Australia. Angin bertiup menuju Benua Asia melewati Indonesia dan perairan Samudera Hindia yang bersuhu permukaan laut lebih rendah, sehingga membawa massa udara kering dan sedikit uap air.
Di sisi lain, berkurangnya tutupan awan saat kemarau membuat radiasi matahari langsung mencapai bumi pada siang hari sehingga terasa sangat panas. Sebaliknya pada malam hari, panas bumi langsung dilepaskan ke atmosfer luar tanpa hambatan awan, yang membuat udara dekat permukaan terasa jauh lebih dingin.
Ketua Tim Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, Agita Vivi, menjelaskan bahwa masyarakat perlu mengantisipasi dampak cuaca terik ini saat beraktivitas di luar ruangan untuk menghindari gangguan kesehatan.
"Masyarakat disarankan menggunakan pakaian yang sesuai dengan kondisi cuaca, memakai tabir surya ketika terpapar sinar matahari langsung pada siang hari, serta menjaga tubuh tetap terhidrasi dengan baik," ujar Agita Vivi, Ketua Tim Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG dalam keterangan tertulis pada Jumat (10/7/2026).
Agita menambahkan bahwa wilayah Bekasi, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara saat ini mengalami penyinaran matahari yang optimal karena dominasi angin timuran dan menguatnya Monsun Australia yang membawa udara kering.
"Secara klimatologis, puncak musim kemarau diprediksi berlangsung pada Juli hingga September 2026," kata Agita Vivi, Ketua Tim Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG.
Kondisi langit yang cerah tanpa hambatan awan menyebabkan pelepasan panas dari permukaan bumi berlangsung cepat pada malam hari.
"Kondisi inilah yang seringkali disebut sebagai bediding," ujar Agita Vivi, Ketua Tim Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG.
BMKG menegaskan bahwa perubahan temperatur yang mencolok ini merupakan siklus yang wajar terjadi secara berkala setiap tahunnya.
"Kondisi siang hari yang panas dan malam hari yang dingin masih termasuk dinamika cuaca normal saat musim kemarau," jelas Agita Vivi, Ketua Tim Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG.
Sementara itu, warga Bekasi bernama Saiful membenarkan adanya perubahan suhu harian yang dirasakan oleh masyarakat setempat akhir-akhir ini.
"Kalau malam hari jadi terasa dingin. Biasanya sampai subuh, cuaca lebih dingin," kata Saiful kepada CNNIndonesia.com, Jumat (10/7).
Selain Jabodetabek, wilayah selatan Indonesia seperti Jawa bagian selatan, Sumatera Selatan, Bali, NTB, dan NTT juga mengalami penurunan suhu udara siang hari yang lebih rendah dibandingkan periode bulan-bulan lainnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow