Blue Bird Ungkap Katalis dan Proyeksi Pertumbuhan 2026
PT Blue Bird Tbk (BIRD) mengungkapkan katalis yang akan mendorong kinerja perseroan di sisa semester II tahun 2026, dengan optimisme bisa menutup tahun buku dengan pertumbuhan positif, dilansir dari Investor Daily.
Direktur Keuangan Blue Bird, Irawaty Salim, mengatakan bahwa kinerja BIRD pada semester II biasanya lebih baik secara year-on-year dibandingkan semester I-2026. Kapasitas armada Blue Bird sudah bertambah dan mendapat respons pasar yang positif.
"Harapan kami apalagi dengan adanya Bluebird Prime sebagai produk baru kami, bisa menunjang apa yang kami inginkan dari performa di semester II-2026. Jadi, harapannya semakin membaik," ujar Irawaty.
Bluebird Prime, layanan taksi premium yang diluncurkan Juli 2026, menggunakan armada Toyota Innova Zenix Hybrid dan BYD E6 dengan tarif kompetitif. Pada periode awal, tingkat utilisasi Bluebird Prime mencapai sekitar 93%, lebih tinggi dari armada reguler sekitar 80%, dengan average revenue per vehicle (ARPV) sekitar Rp1,1 juta dibandingkan Rp700 ribu armada reguler.
Irawaty menyatakan bahwa Bluebird Prime lahir dari kebutuhan pelanggan yang ingin kenyamanan lebih baik, mulai dari kabin lebih lega, tipe armada, hingga pengemudi profesional. "Sambutannya cukup baik dari pelanggan. Kami ingin merangkul pelanggan agar bisa menikmati setiap layanan Blue Bird," tuturnya.
Irawaty juga menilai prospek industri mobilitas di Indonesia masih terus tumbuh seiring kebutuhan mobilitas masyarakat yang tidak pernah berhenti. Blue Bird menyediakan layanan taksi sehari-hari, eksklusif, eksekutif, rental bus antarakota, shuttle, dan rental mobil.
"Ruang gerak kami masih besar karena mobilitas masyarakat tidak akan berhenti. Kami beradaptasi dengan kebutuhan pelanggan," kata Irawaty. Layanan konsisten dan armada yang terus bertambah diharapkan membuat pelanggan tetap setia kepada Blue Bird.
Menurut analis KB Valbury Sekuritas, Adolf R B Setiadi, pendapatan segmen taksi Blue Bird diperkirakan mencapai Rp4,53 triliun pada FY26F, tumbuh 13,5%, dan meningkat 9,9% menjadi Rp4,97 triliun pada FY27F.
Bisnis non-taksi menjadi sumber pertumbuhan penting, dengan kontribusi pendapatan naik dari 22% pada FY22 menjadi 30% pada FY25, dan diperkirakan mencapai 33% pada FY28F. Goldenbird, bisnis rental kendaraan dengan lebih dari 7.000 unit di 20 kota, menyumbang sekitar 40% pendapatan non-taksi dan diperkirakan tumbuh dengan CAGR 13,4% sepanjang FY26-31F.
"Pendapatan Goldenbird diestimasikan mencapai Rp840,3 miliar pada FY26F, tumbuh 5,8%, dan Rp942,2 miliar pada FY27F," kata Adolf.
Cititrans, bisnis shuttle, mencatat CAGR pendapatan 35,1% sepanjang FY22-25 dan diproyeksikan mencapai Rp457,1 miliar pada FY26F, tumbuh 28,7%, serta Rp532,3 miliar pada FY27F.
Bisnis rental bus dan BRT melalui BigBird diperkirakan menyumbang Rp433,8 miliar pada FY26F, tumbuh 4,9%, dan Rp596,1 miliar pada FY27F, meningkat 37,4%.
Secara keseluruhan, pendapatan BIRD diperkirakan mencapai Rp6,42 triliun pada FY26F dan Rp7,21 triliun pada FY27F, tumbuh masing-masing 12,7% dan 12,3%, sesuai target manajemen yang mengarahkan pertumbuhan pendapatan 10-14% per tahun.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow