Astra Agro Kembangkan Bibit Sawit Unggul Atasi Kesenjangan Pasokan Global

Smallest Font
Largest Font

Ancaman kesenjangan pasokan minyak nabati global di masa depan semakin nyata. Laju pertumbuhan konsumsi minyak nabati dunia yang mencapai 2,7 persen per tahun kini telah melampaui tingkat kenaikan produksinya yang hanya berada di angka 2,6 persen per tahun.

Kondisi ini diperkirakan terus berlanjut hingga tahun 2050, di mana konsumsi diproyeksikan menembus 365 juta ton, sementara produksi global stagnan di angka 227 juta ton akibat keterbatasan perluasan lahan baru.

Sebagai penyokong 22 persen pasokan minyak nabati dunia dari sektor kelapa sawit, Indonesia berada di posisi krusial untuk mengatasi ketimpangan ini, sebagaimana dilansir dari Detik Finance.

Untuk merespons tantangan tersebut, pendekatan riset dan inovasi terus ditempuh. Salah satu langkah konkrit difokuskan pada pengembangan bibit unggul yang memiliki tingkat produktivitas jauh melebihi rata-rata tanaman biasa.

Proses pengembangan varietas kelapa sawit berkualitas tinggi membutuhkan komitmen jangka panjang. PT Astra Agro Lestari memerlukan waktu riset hingga satu dekade sebelum akhirnya merilis tiga varietas unggul yang diakui Kementerian Pertanian pada 2021, yaitu DxP AAL Lestari, DxP AAL Sejahtera, dan DxP AAL Nirmala.

Ketiga varietas ini dirancang dengan keunggulan utama pada produktivitas tandan buah segar (TBS) dan minyak, laju pertumbuhan tinggi yang lambat, serta rasio bunga betina (sex ratio) yang seimbang.

Varietas tersebut mampu menghasilkan TBS sekitar 30 hingga 32 ton per hektare per tahun. Angka ini berada jauh di atas tingkat produksi kebun rakyat pada umumnya.

Selain itu, rendemen CPO yang dihasilkan terbilang tinggi, yaitu mencapai 26 sampai 29 persen. Hasil konversi menunjukkan produktivitas minyaknya mencapai 8,6 hingga 9,2 ton per hektare setiap tahunnya.

Plant Breeding Expert PT Astra Agro Lestari, Ardha Apriyanto, menjelaskan bahwa volume tonase produksi sawit sangat dipengaruhi oleh jumlah dan bobot tandan pada setiap pohon.

"Kalau ingin produksi naik, yang dicari adalah jumlah tandannya lebih banyak dan tandannya juga lebih besar. Pada akhirnya produktivitas dihitung dari volume atau tonase yang dihasilkan," kata Ardha saat ditemui di Pangkalan Bun, Kamis (30/7/2026).

Varietas ini juga memiliki laju pertambahan tinggi yang tergolong lambat, yakni hanya sekitar 39 hingga 42 sentimeter per tahun. Karakteristik ini membuat tanaman lebih mudah dipanen, menekan biaya operasional tenaga kerja, serta memperpanjang usia produktif kebun.

Efektivitas Peremajaan Kebun dan Generasi Terbaru

Penerapan bibit unggul ini telah dimulai sejak 2023 melalui program peremajaan tanaman (replanting) secara bertahap pada area sekitar 5.000 hektare per tahun.

Langkah selektif ini diambil agar perusahaan tidak kehilangan seluruh kapasitas produksi secara mendadak. Peremajaan difokuskan pada tanaman berusia sekitar 30 tahun yang dinilai sudah tidak ekonomis dan terlalu tinggi untuk dipanen.

"Tanaman yang kita ganti itu usia sekitar 30 tahun karena memang target produksinya sudah tidak tercapai, udah nggak ekonomis lagi. Dan tanamannya juga sudah tinggi biasanya.Kalau sudah tinggi akan susah panennya biasanya," ujar Ardha.

Meskipun hasil tahap awal peremajaan menunjukkan capaian target yang positif, evaluasi berkala tetap berjalan guna memastikan potensi tanaman keluar secara optimal saat memasuki masa produktif penuh.

"Ini masih tahap belajar berbuah. Kami masih mengevaluasi apakah pola perawatannya perlu disesuaikan agar potensinya bisa keluar secara maksimal," tutur Ardha.

Inovasi ini terus berlanjut hingga tahun 2025 dengan dirilisnya generasi terbaru, yakni DxP AAL Lestari MRG, DxP AAL Sejahtera MRG, dan DxP AAL Nirmala MRG.

Generasi teranyar ini dibekali keunggulan tambahan berupa ketahanan terhadap jamur Ganoderma, penyebab penyakit busuk pangkal batang yang sering melumpuhkan perkebunan sawit.

Secara performa, varietas generasi MRG ini sanggup menghasilkan TBS hingga 32,7 ton per hektare per tahun dengan bobot rata-rata tandan 12,2 kilogram. Dengan rendemen CPO sebesar 28,9 persen, varietas ini mampu mencatatkan produktivitas minyak hingga hampir 9,9 ton per hektare per tahun.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed