Ancaman Serangan Trump Ganggu Hubungan Diplomatik AS dan Oman

Smallest Font
Largest Font

Stabilitas hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Oman yang telah terjalin selama hampir dua abad terancam setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman serangan militer terhadap negara Teluk tersebut. Langkah keras ini dipicu frustrasi Trump atas kebuntuan negosiasi akses Selat Hormuz.

Ancaman militer tersebut terlontar usai masa berlaku kesepakatan sementara selama 60 hari berakhir tanpa solusi resmi. Oman mendadak menjadi sasaran kemarahan Gedung Putih akibat dinilai berpotensi menghalangi rencana perdamaian AS dengan Iran di kawasan strategis tersebut.

Muscat memegang peranan krusial karena Selat Hormuz membentang langsung di antara wilayah Oman dan Iran. Meski pelabuhan dan infrastruktur energinya hancur akibat serangan balasan selama konflik berlangsung, Oman tetap konsisten berpartisipasi aktif dalam memfasilitasi dialog diplomasi.

Analis dari lembaga kajian Chatham House, Neil Quilliam, menilai retorika presiden Amerika Serikat tersebut memicu kecemasan mendalam di Muscat. Ancaman berulang berisiko merusak kepercayaan terhadap posisi strategis Oman selama ini.

"Pernyataan Trump kecil kemungkinan akan mengubah secara mendasar hubungan AS-Oman yang mendalam, multidimensional, dan terinstitusionalisasi," kata Neil Quilliam, Analis Chatham House.

"Namun, pernyataan tersebut akan menimbulkan keresahan di Muscat (lagi), karena tampak menantang peran lama Oman sebagai mediator netral dengan Iran," ujar Neil Quilliam, Analis Chatham House.

"Jika Trump mengulangi pernyataan jenis ini, maka akan lebih sulit bagi Oman untuk bertindak sebagai jembatan diplomatik yang terpercaya antara Washington dan Teheran," kata Neil Quilliam, Analis Chatham House.

Ketegangan ini dinilai kontradiktif mengingat sejarah panjang kemitraan kedua negara yang diawali Perjanjian Persahabatan dan Perdagangan pada 1833. Oman juga tercatat sebagai negara Arab pertama yang mengakui kemerdekaan Amerika Serikat pada 1776 dan memiliki perjanjian perdagangan bebas bilateral sejak 2006.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr Albusaidi melayangkan kritik terbuka atas tindakan militer Amerika Serikat di kawasan. Ia juga mengungkapkan pandangannya terkait ekskalasi konflik yang melibatkan Tehran melalui tulisan di media The Economist.

"[Serangan Iran] sangat disesalkan, [tetapi] mungkin merupakan satu-satunya pilihan rasional yang tersedia bagi kepemimpinan Iran," kata Sayyid Badr Albusaidi, Menteri Luar Negeri Oman.

Dampak konflik langsung dirasakan jalur logistik Oman di Pelabuhan Duqm, Salalah, Sohar, dan Bukha dengan catatan 16 orang tewas serta 35 lainnya luka-luka. Untuk mengatasi kendala pelayaran, penyedia logistik Asyad Group kini bekerja sama dengan perusahaan pelayaran Prancis CMA CGM guna membangun terminal logistik di Teluk Oman.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed