— Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di PT Tokopedia dinilai sebagai konsekuensi wajar dari proses akuisisi oleh ByteDance lewat unit TikTok. Penyesuaian organisasi dan efisiensi operasional disebut menjadi alasan utama pengurangan personel.

Kabar mengenai pemangkasan karyawan kembali beredar setelah laporan di media sosial menyebut pengurangan skala besar di sejumlah divisi. Pihak TikTok dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GoTo) mengonfirmasi adanya penyesuaian organisasi yang berdampak pada sebagian karyawan, namun belum menyampaikan jumlah pegawai terdampak secara rinci.

Pandangan Ahli

Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menilai praktik pengurangan karyawan lazim terjadi dalam proses merger dan akuisisi. Menurut Huda, perusahaan hasil akuisisi umumnya menyederhanakan struktur organisasi untuk mencapai efisiensi operasional.

“Akuisisi tanpa PHK itu adalah cerita khayalan, utopis. Dalam setiap akuisisi, pasti akan ada unit kerja yang serupa, ada biaya yang harus diefisiensikan. Maka PHK karyawan menjadi opsi yang paling mudah diambil oleh perusahaan yang mengakuisisi,” kata Huda pada Minggu (5/7/2026).

Huda menegaskan pengurangan pegawai merupakan konsekuensi dari integrasi dua entitas yang memiliki fungsi dan struktur yang tumpang tindih.

“Maka saya katakan, PHK karyawan ini buah dari merger. Jika ada petinggi perusahaan yang mengatakan tidak akan ada PHK setelah akuisisi, itu mereka lagi berbohong. Jadi memang dari awal, pasti ada penyesuaian yang menimbulkan pengurangan karyawan,” ujarnya.

Riwayat Akuisisi dan Gelombang PHK Sebelumnya

Tokopedia resmi berada di bawah kendali TikTok setelah ByteDance menyelesaikan akuisisi 75,01% saham Tokopedia senilai US$1,5 miliar pada 31 Januari 2024. GoTo mempertahankan 24,99% kepemilikan.

Sejak transaksi tersebut, Tokopedia telah melakukan beberapa kali efisiensi tenaga kerja sebagai bagian dari integrasi. Pada Juni 2024, dilaporkan sekitar 450 karyawan dipangkas. Gelombang efisiensi berlanjut sepanjang 2025 dengan sekitar 180 karyawan terkena PHK pada Juli, dan sekitar 240 karyawan pada Agustus.

Terbaru, muncul laporan tentang gelombang PHK yang menyasar berbagai divisi, termasuk tech, finance, dan administrasi. Perusahaan sampai saat ini belum merilis rincian resmi terkait jumlah karyawan yang terdampak.