batampos – Normalisasi layanan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) telah rampung. Nasabah sudah bisa bertransaksi melalui kantor cabang, mesin anjungan tunai mandiri (ATM), maupun mobile banking.
“Proses normalisasi BSI berlangsung baik. Prioritas utama untuk meyakinkan dana dan data nasabah aman,” kata Direktur Utama BSI Hery Gunardi di kantornya, kemarin (11/5).
Kini, BSI tengah melakukan peningkatan kapasitas. Agar core banking dan critical channel bisa kembali dipulihkan dengan cepat dan stabil. Sehingga layanan kepada nasabah dapat sepenuhnya normal.
Hery mengatakan, pihaknya menemukan indikasi adanya serangan siber. Sehingga perlu dilakukan temporary switch off beberapa channel. Untuk memastikan keamanan sistem.
BSI akan melakukan penelusuran. Perlu pembuktian lebih lanjut melalui audit dan digital forensik. Koordinasi terus dilakukan dengan berbagai pihak. Baik itu regulator maupun pemerintah.
Dia juga menyampaikan permohonan maaf atas kendala yang dialami nasabah dalam mengakses layanan BSI. “Atas nama Bank Syariah Indonesia, kami menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan nasabah karena adanya kendala dalam mengakses layanan BSI,” ujarnya.
Terkait pelunasan jamaah haji, Corporate Secretary BSI Gunawan Arief Hartoyo menyampaikan, kuota calon jamaah haji BSI yang berhak melunasi sebanyak 161.544 orang. Yang sudah melunasi sejumlah 153.472 orang. Dengan rincian, 142.625 orang jamaah reguler dan 10.847 orang jamaah cadangan.
“Cadangan adalah jamaah yang masuk dalam kuota pelunasan. Namun akan berangkat jika secara total ada jamaah haji reguler atau non cadangan yang tidak berangkat. Cadangan sudah memiliki bukti pelunasan haji. Ini pelunasan sudah 95 persen,” bebernya saat ditanyai Jawa Pos.
Dia optimistis pelunasan bisa selesai tepat waktu. Mengingat, BSI memiliki kantor cabang lebih dari 1.000 unit. “Untuk haji kita nggak main-main. Mereka tamu Allah,” tegas Gunawan.
Dalam kesempatan yang sama, SVP Retail Deposit and Payroll Solution Vita Andrianty menjelaskan, semula jadwal pelunasan calon jamaah haji pada 5 Mei. Seluruh kantor cabang sudah diinstruksikan bagi calon jamaah haji yang belum melunasi harus dicari alamatnya. Jika tidak memiliki nomor telepon, didatangi ke rumahnya.
BSI berupaya agar orang yang berhak lunas, jangan sampai tidak melunasi. Karena ada calon jamaah haji yang sudah mendaftar 15 tahun yang lalu. “Ini sebelum kejadian 8 Mei. Itu teman-teman cabang karena target awal tgl 5 Mei. Makanya begitu kami ada masalah Senin (8/5) lalu, kami nggak terlalu worried. Karena sudah mengejar sebelumnya,” terang Vita.
Data Kementerian Agama (Kemenag) menunjukkan, bahwa rata-rata pelunasan itu calon jamaah haji hanya 92-93 persen. Karena ada calon jamaah haji yang meninggal dunia, sakit, atau secara ekonomi belum siap. “Artinya, pelunasan 95 persen sudah melebihi rata-rata pelunasan tahunan,” tambahnya.
Saat ini, posisi tabungan haji BSI sudah sekitar 4,7 juta rekening tabungan haji. Untuk pelunasan tahun ini se-Indonesia sebanyak 81 persen merupakan nasabah BSI.
Dampak gangguan sistem BSI dirasakan banyak masyarakat. Diantaranya dirasakan Dian Susilo, warga Tangerang Selatan, Banten. “Saya sampai pinjam uang dulu ke teman,” katanya kemarin. Pasalnya uang untuk kebutuhan transaksi harian, dia simpan semuanya di BSI.
Transaksi harian yang dia maksud adalah untuk bayar listrik, tagihan internet, sampai untuk layanan pesan antar makanan secara online. Kebetulan saat itu meteran listriknya sedang berbunyi, menandakan segera habis.
Dian sejatinya adalah nasabah Bank Syariah Mandiri (BSM). Ketika sejumlah bank syariah plat merah merger, dia otomatis jadi nasabah BSI. Sejak awal dia lebih tertarik menabung di bank syariah. Atas kejadian ini, dia pikir-pikir untuk ganti bank namun tetap yang syariah.
Dia menuturkan gangguan BSI terjadi mulai Senin. Pada Selasa malam sempat normal dan bisa melihat saldo lewat aplikasi BSI. Dian mengira gangguan sudah selesai dan belum sempat menarik sebagian uangnya. Dia kembali terkejut pada Rabu sampai Kamis kemarin BSI gangguan lagi. “Saat saya cek dia media sosial, yang sampai berhutang karena BSI gangguan banyak sekali,” paparnya.
Dampak dari gangguan BSI tidak hanya dirasakan masyarakat perorangan. Tetapi juga lembaga atau institusi. Diantaranya disampaikan Rektor Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Jakarta Mukhaer Pakkanna. Sebagai pimpinan salah satu Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), dengan ratusab dosen karyawan serta staff, selama ini loyal sebagai nasabah BSI.
“Hampir setiap saat mereka minta penjelasan ke sata tentang masalah BSI ini,” katanya. Kondisi serupa juga terjadi di AUM-AUM lainnya. Sebagai nasabah BSI, dia merasakan masyarakat lainnya pasti resah karena tidak bisa bertransaksi.
Kepanikan bakal semakin menjadi, ketika seseorang hanya menggunakan BSI untuk menyimpan dan bertransaksi. Mereka tidak bisa bertransaksi, padahal gaji, upah, honor, dan lainnya disimpan di BSI.
“Banyak di antara mereka adalah nasabah ultra mikro, mikro, dan kecil, bahkan berpenghasilan rendahan,” terangnya. Kelompok ini memiliki anak, saudara, dan keluarga yang butuh pembayaran.
Mukhaer justru menyayangkan sikap pimpinan BSI yang menyalahkan para hacker. Menurut dia para pimpinan BSI digaji besar, untuk menjaga keamanan dan kepercayaan masyarakat. Termasuk menjaga keamanan sistem BSI itu sendiri. Dia juga kecewa sampai hari keempat tidak ada ucapan permohonan maaf dari pimpinan BSI secara terbuka.
Sejak awal terjadi gangguan di sistem BSI, sejumlah pihak menduga pemicunya adalah serangan siber. Diantaranya disebabkan oleh serangan Ransomware. Pada 2017 lalu, serangan Ransomware membuat lumpuh RS Dharmais dan RS Harapan Kita di Jakarta. “Sampai akhirnya (serangan siber BSI) diakui sendiri oleh Menteri BUMN,” kata pengamat kebijakan publik dari UPN Veteran Jakarta Achmad Nur Hidayat. Dia mengatakan serangan siber berhari-hari itu telah memengaruhi kepercayaan masyarakat.
Dia mengamati hampir semua layanan BSI tidak bisa digunakan. Termasuk layanan di aplikasi mobile banking sampai ATM. Jadi menurut dia wajar publik menjadi marah, sampai ada yang menghujat lewat media sosial.
Achmad mengatakan tumbangnya sistem BSI itu, memunculkan kekhawatiran sistem keamanan perbankan milik negara. “Serangan siber ke instansi pemerintah, termasuk perbankan BUMN ini bukan pertama kali. Namun respon solusi lambat sekali,” jelasnya.
Dia mencontohkan beberapa waktu lalu website Kementerian Hukum dan HAM sempat dijebol sehingga menjadi website judi online. Begitupun website pemda dan sejumlah kampus negeri, juga sempat jadi korban peretasan. Namun dampaknya tidak sampai seperti yang terjadi pada BSI kali ini. Dia menegaskan tumbangnya layanan BSI selama tiga hari lebih itu merupakan yang terparah dalam sistem perbankan tanah air.
Sementara itu, Inspektur Jenderal Kementerian Agama Faisal mengungkapkan, terkait adanya sejumlah jamaah haji yang belum bisa melunasi setoran pelunasan haji karena adanya kendala pada sistem BSI, pihaknya telah meminta Kakanwil Kemenag untuk aktif menjemput bola. Termasuk memastikan jamaah haji mendapatkan jalan keluar yang prinsipnya tidak merugikan.
“Tapi, kita lihat besok (hari ini, red) bagaimana, masih ada tidak jamaah haji yang belum melakukan pelunasan. Karena batasannya itu besok,” jelasnya. Karena itu, pihaknya juga belum bisa memastikan apakah waktu pelunasan biaya haji akan diperpanjang.
Hanya saja, Faisal berharap pihak BSI dapat segera mengatasi permasalahan teknis yang terjadi pada sistemnya. Sehingga jamaah haji juga dapat segera melakukan pelunasan. Jika sudah banyak yang lunas, tentu waktu pelunasan biaya haji pun tidak perlu diperpanjang. “Kalau permasalahannya belum selesai juga mungkin bisa menggunakan data secara manual,” terangnya.
Diakui Faisal, hingga saat ini memang masih banyak jamaah haji yang belum melakukan pelunasan. Namun, untuk jumlah pastinya, dia memang belum menerima datanya. Sebab, di setiap daerah juga berbeda-beda jumlahnya. “Tapi yang jelas lewat BSI itu lumayan banyak. Untuk Jawa Timur saja, itu saya dapat laporan sekitar 60 persen lewat BSI,” ucapnya.
Sumber: batampos.co.id


