— Perairan selatan Kabupaten Lebak, Banten, dikenal menghasilkan tuna berkualitas tinggi yang rutin menembus pasar Jepang dan sejumlah negara Eropa. Meski jadi pemasok utama bahan baku, Kabupaten Lebak belum menikmati nilai tambah ekonomi dari perdagangan internasional tersebut.

Seluruh proses hilirisasi—mulai penyortiran, pengolahan, pengemasan, hingga penjaminan mutu—dilakukan oleh perusahaan pengolahan besar di luar daerah. Akibatnya, kontribusi transaksi ekspor dan pencatatan devisa tidak tercatat atas nama Kabupaten Lebak dalam statistik nasional.

Kepala Bidang Pengelolaan Perikanan Tangkap Dinas Perikanan Kabupaten Lebak, Rizal Ardiansyah, mengatakan tuna merupakan komoditas paling konsisten diminati pasar internasional dari sekian banyak potensi laut di wilayahnya.

“Dari hampir 100 jenis ikan yang tertangkap, yang rutin berpeluang ekspor itu tuna. Kalau sedang musim, ikan layur juga, kemudian lobster,” ujar Rizal.

Lebak Hanya Jadi Pemasok Bahan Baku

Rizal menjelaskan ikan tangkapan nelayan yang termasuk kategori premium biasanya dikirim ke perusahaan pengolahan di Muara Baru (Jakarta) dan Palabuhanratu (Sukabumi) untuk menjalani proses krusial sebelum diterbangkan ke luar negeri.

“Berdasarkan informasi yang kami peroleh, tujuan ekspornya umumnya ke Jepang maupun negara-negara di Eropa. Tetapi yang mengekspor bukan perusahaan dari Lebak, melainkan perusahaan besar di Jakarta atau Palabuhanratu,” kata Rizal.

Karena bukan perusahaan lokal yang mengurus ekspor, pemerintah kabupaten tidak memiliki data resmi mengenai total volume maupun nilai ekonomi bersih dari aktivitas tersebut. Identitas Lebak sebagai daerah produsen juga tidak tercantum dalam data perdagangan internasional.

“Kalau terkait data kita tidak punya, karena bukan perusahaan sini yang mengekspor. Dan tuna pun tidak semuanya bisa ekspor, hanya yang kualitas grade A,” tambahnya.

Tantangan Penanganan dan Infrastruktur

Untuk memenuhi standar pasar global, penanganan pasca-tangkap di atas kapal menjadi penentu. Rizal menyebut fluktuasi suhu, paparan matahari, dan benturan fisik di kapal dapat menurunkan mutu daging tuna sehingga gagal memenuhi persyaratan negara importir.

“Ikan harus segera ditangani setelah ditangkap, kemudian dimasukkan ke ruang pendingin (cool box) berisi es agar kualitasnya tetap terjaga,” ujar Rizal.

Selain itu, sektor budidaya air tawar di Lebak belum berhasil menembus pasar internasional. Ketiadaan fasilitas pengolahan modern, keterbatasan pabrik es skala industri, fasilitas pembekuan cepat (air blast freezer), serta ketiadaan laboratorium sertifikasi mutu internasional membuat nelayan lokal kehilangan posisi tawar.

Akibat keterbatasan infrastruktur, rantai pasok cenderung ditarik ke pusat-pusat industri yang sudah memiliki akses logistik rantai dingin (cold chain) terintegrasi dan dekat dengan bandara internasional.

Rizal menilai tanpa upaya menarik investor dan membangun ekosistem industri hilir perikanan di pesisir Lebak, daerah ini akan terus berperan sebagai pemasok bahan baku sementara pendapatan asli daerah dan kesejahteraan nelayan tetap stagnan.

Jika regulasi dan insentif untuk investasi industri hilir tidak segera diperbaiki, kebocoran potensi pendapatan dari devisa hasil laut diyakini akan terus mengalir ke wilayah lain meskipun sumber daya berada di perairan Lebak.