Teleskop Inouye Tangkap Citra Pusaran Matahari Terdetail dalam Sejarah
Teleskop Solar Daniel K. Inouye milik National Science Foundation di Hawaii berhasil mengabadikan gambar pusaran permukaan Matahari paling terperinci sepanjang sejarah, dilansir dari Detikcom. Temuan mutakhir ini dipublikasikan lewat makalah ilmiah karya David Kuridze bersama timnya yang berjudul Ubiquitous Kelvin-Helmholtz instabilities driving plasma mixing on the Sun, melengkapi rekaman selang waktu pergerakan di wilayah tersebut.
Pengamatan tersebut memperlihatkan kumpulan pusaran kecil yang memusat di pinggiran area magnetik, sebagian disertai garis-garis halus bernama striasi. Ketajaman instrumen teleskop ini sanggup memetakan struktur pusaran berukuran milimeter yang luput dari pandangan selama 150 tahun, lalu mencocokkannya dengan simulasi guna memastikan keakuratan fenomena.
Teleskop yang beroperasi di puncak Gunung Haleakalā sejak 2025 ini dirancang untuk memantau badai antariksa sekaligus menganalisis Matahari. Kamera pada observatorium tersebut mampu menjangkau resolusi hingga 10 kilometer per piksel di area permukaan, meskipun terpisah jarak puluhan juta mil dari Bumi.
Penampakan awal yang dihasilkan merekam pusaran magnetik berukuran sangat masif. Area berpigmen gelap pada permukaan Matahari tersebut mengindikasikan konsentrasi medan magnet yang kuat, di mana ukurannya bahkan melampaui total luas daratan Amerika Serikat.
Pembuktian Teori Kelvin-Helmholtz Instability
Melalui rekaman visual tersebut, para peneliti menemukan bukti nyata dari teori Kelvin-Helmholtz instability. Konsep fisika ini menerangkan fenomena ketika dua fluida meluncur berpapasan dengan kecepatan berbeda, hingga gesekannya membentuk pola spiral.
Walaupun fenomena mekanika fluida ini tergolong umum dalam ilmu pengetahuan, ini merupakan momen pertama kalinya fenomena tersebut terdeteksi di antara aliran plasma Matahari yang berdampingan. Pusaran yang terus berputar dan bercampur dengan garis medan magnet disinyalir memicu akumulasi energi di balik suar Matahari serta pelepasan massa korona.
"Pusaran ini juga barangkali dapat membantu menjelaskan tentang atmosfer luar Matahari yang suhunya mencapai sekitar 1 juta derajat Celsius, sementara permukaannya memiliki suhu ratusan ribu derajat lebih dingin," kata Kepala Teknologis National Solar Observatory, Thomas Rimmele.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow