Ratusan Santri Diduga Keracunan Makan Bergizi Gratis di Sidoarjo
Ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam di Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa (1/9) pagi, menurut laporan dari beberapa sekolah di sekitar lokasi.
Sebanyak 512 santri dilaporkan terdampak keracunan dari program MBG yang makanan-nya disediakan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, kata Deputi Pemantauan dan Pengawasan Badan Gizi Nasional (BGN), Ketut Sumedana, dalam rilis resmi pada Rabu (2/9) di Jakarta.
Menu makanan berupa nasi, telur, orak-arik tempe, sayur, dan buah apel didistribusikan ke lebih dari seribu porsi santri dan siswa Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah Manbaul Hikam sekitar pukul 10.00 WIB. Beberapa santri mulai menunjukkan gejala keracunan pada Selasa malam dan segera dilarikan ke rumah sakit.
Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD R.T. Notopuro di Sidoarjo mengalami kepadatan pasien akibat membludaknya santri yang dirawat, bahkan pihak rumah sakit menambah ranjang dan beberapa pasien terpaksa dirawat di atas tandu, lapor jurnalis Asvin Ellyana dari BBC News Indonesia.
Muhammad Reyhan, salah satu santri korban, menceritakan bahwa gejala seperti pusing dan mual mulai dirasakannya sekitar pukul 06.00 WIB keesokan harinya setelah menyantap MBG. Ayah Reyhan mengungkapkan kondisi anaknya memburuk dan harus dibawa ke rumah sakit pada pukul 14.00 WIB, dan kini Reyhan masih menjalani perawatan di IGD RSUD Notopuro.
Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) menilai insiden keracunan ini merupakan bagian dari masalah yang lebih besar terkait tata kelola dan pengawasan program MBG di Indonesia. Ketua Umum YLBHI, Muhammad Isnur, mengatakan bahwa "ketika pemerintah telah mengetahui puluhan ribu dugaan korban dan tata kelola yang rapuh, tetapi tetap memperluas program dan mengambil ruang anggaran pendidikan, itu bukan sekadar salah urus, itu adalah pengkhianatan terhadap rakyat dan konstitusi, Sidoarjo harus menjadi titik berhenti."
YLBHI juga menyoroti bahwa penyetopan sementara SPPG Kalitengah tidak cukup. Wakil Ketua Bidang Advokasi YLBHI, Edy Kurniawan, menyatakan bahwa "pemeriksaan harus menelusuri seluruh rantai tanggung jawab—dari pengadaan bahan, produksi, penyimpanan, distribusi, pengawasan harian, hingga keputusan Badan Gizi Nasional." Kelompok tersebut menuntut transparansi informasi dan mekanisme pemulihan bagi korban tanpa membebani sekolah atau anak penerima manfaat.
Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat hingga Juli 2026 terdapat 40.759 kasus dugaan keracunan MBG di Indonesia. Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, mengungkapkan bahwa kasus tersebut merusak kualitas pendidikan karena anak-anak dan guru terganggu oleh masalah keselamatan pangan yang seharusnya tidak terjadi di lingkungan sekolah.
Selain Sidoarjo, kasus dugaan keracunan MBG juga terjadi di beberapa daerah lain, seperti SMAN 1 Lubuk Pakam di Sumatra Utara, SD di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, dan Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, dimana puluhan hingga ratusan siswa mengalami gejala sakit setelah mengonsumsi menu MBG.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow