— Samuel Sekuritas Indonesia memperingatkan pasar keuangan domestik menghadapi sejumlah tantangan pada paruh kedua 2026. Perpaduan tekanan terhadap rupiah, kenaikan imbal hasil, dan ketidakpastian kebijakan dinilai membuat strategi agresif berisiko tinggi.

“Memasuki paruh kedua 2026, pasar masih dibayangi kombinasi antara tekanan rupiah, kenaikan imbal hasil, dan ketidakpastian kebijakan. Dalam situasi seperti ini, strategi yang terlalu agresif belum tentu menjadi pilihan terbaik. Karena itu, pendekatan defensif menjadi semakin penting,” ujar Managing Director PT Samuel Tumbuh Bersama Tae Yong Shim.

Shim menjelaskan fokus utama Bank Indonesia saat ini adalah stabilisasi nilai tukar rupiah. Ia mencatat BI-Rate telah dinaikkan total 100 basis poin, dari 4,75 persen pada Maret 2026 menjadi 5,75 persen pada Juni 2026.

“BI menaikkan suku bunga untuk menjaga daya tarik rupiah. Namun, konsekuensinya adalah pertumbuhan ekonomi berpotensi tetap tertahan. Ini menjadi dilema utama pasar, karena stabilitas perlu dijaga, tetapi ruang pertumbuhan juga menjadi lebih terbatas,” kata Shim.

Menurut Shim, siklus kenaikan suku bunga saat ini mirip dengan kondisi 2018, ketika kebijakan moneter dinaikkan untuk meredam pelemahan rupiah dan mengembalikan kepercayaan investor asing.

“Masalah utamanya bukan hanya kenaikan suku bunga, tetapi alasan di balik kenaikan itu. Ketika pasar membaca bahwa kenaikan suku bunga dilakukan untuk mengorbankan pertumbuhan demi stabilitas, investor akan menjadi lebih berhati-hati terhadap aset berisiko,” tambah Shim.

Isu MSCI

Dari sisi pasar saham, Samuel Sekuritas menilai valuasi mulai menawarkan titik masuk yang lebih menarik setelah koreksi tajam. Namun, kenaikan suku bunga dan risiko kebijakan disebut membuat katalis pemulihan belum sepenuhnya kuat.

“Kami memperkirakan tekanan terbesar dari isu MSCI kemungkinan telah berlalu, meskipun ketidakpastian terkait daya tarik, free float, transparansi dan downgrade frontier masih menjadi faktor yang perlu terus dicermati investor,” ujar Shim.

Head of Research Samuel Sekuritas Indonesia, Prasetya Gunadi, menilai sektor perbankan masih menunjukkan kinerja relatif resilien secara tahunan, meski prospek pertumbuhan mulai dipengaruhi tekanan makro.

“Secara tahunan, kinerja bank masih terlihat resilien. Namun, investor perlu melihat lebih jauh ke paruh kedua tahun ini, karena tekanan dari suku bunga tinggi, pelemahan rupiah, dan potensi kenaikan biaya kredit masih menjadi tantangan bagi sektor perbankan,” ujar Prasetya.

Prasetya menambahkan kombinasi rupiah yang lemah dan suku bunga lebih tinggi menjadi latar belakang yang kurang ideal bagi perbankan.

“Lingkungan suku bunga yang lebih tinggi biasanya mendorong kenaikan cost of funds. Jika repricing dana pihak ketiga bergerak lebih cepat dibandingkan aset produktif, margin bank akan tetap berada dalam tekanan. Di saat sama, biaya pinjaman yang lebih tinggi juga dapat memengaruhi kemampuan bayar debitur,” jelas Prasetya.