— Memahami nilai wajar (fair value) mata uang menjadi penting bagi trader yang ingin membuat keputusan lebih terukur di pasar valuta asing. Meski pergerakan harga jangka pendek sering dipengaruhi sentimen dan momentum pasar, faktor fundamental tetap menentukan arah nilai tukar dalam jangka panjang.

Analis Pasar Finansial broker Elev8, Kar Yong Ang, menyatakan analisis fundamental membantu trader memahami faktor struktural yang memengaruhi nilai tukar. Pemahaman atas nilai wajar memberi gambaran kondisi pasar meski tidak selalu menjadi acuan untuk transaksi harian.

Metode Mengukur Nilai Wajar

Salah satu metode yang sering digunakan adalah Purchasing Power Parity (PPP), yang menyatakan harga barang yang sama di dua negara seharusnya setara setelah memperhitungkan nilai tukar dan inflasi. Contoh populer adalah Big Mac Index, yang membandingkan harga burger Big Mac di berbagai negara untuk menilai apakah suatu mata uang overvalued atau undervalued.

Kar Yong Ang mengatakan pendekatan semacam itu memiliki banyak asumsi sehingga kurang tepat sebagai dasar pengambilan keputusan trading jangka pendek. Selain PPP, indikator lain yang dapat diperhatikan adalah Real Effective Exchange Rate (REER) yang diterbitkan Bank for International Settlements (BIS).

Indikator REER mengukur daya saing mata uang dengan memperhitungkan inflasi dan hubungan perdagangan dengan negara mitra. Dana Moneter Internasional (IMF) juga rutin merilis penilaian mengenai valuasi mata uang berbagai negara.

Peran Suku Bunga

Menurut Kar Yong Ang, faktor fundamental yang paling praktis diamati oleh trader adalah kebijakan moneter, terutama pergerakan suku bunga. Perbedaan suku bunga antarnegara berdampak pada arus modal global; negara dengan suku bunga lebih tinggi cenderung menarik lebih banyak investasi asing sehingga menopang nilai mata uangnya.

“Tujuan utama analisis fundamental adalah mencoba menentukan nilai wajar suatu mata uang. Meski tidak selalu relevan untuk trading jangka pendek, pemahaman ini membantu trader membaca faktor yang mendorong pergerakan nilai tukar,” ujar Kar Yong Ang dalam keterangannya, Sabtu (4/7/2026).

Kar Yong Ang mencontohkan pasangan AUD/USD. Trader perlu memperhatikan selisih imbal hasil obligasi pemerintah Australia dan Amerika Serikat, baik tenor dua tahun maupun 10 tahun. Jika suku bunga Australia turun lebih cepat sementara suku bunga AS naik, AUD/USD cenderung melemah; sebaliknya, ketika selisih imbal hasil melebar, AUD/USD biasanya menguat.

Ia menambahkan trader dapat memanfaatkan perbedaan antara pergerakan harga dan yield spread untuk mengidentifikasi potensi pembalikan arah pasar atau divergence.

Faktor Fundamental Lainnya

Selain kebijakan moneter, nilai tukar dipengaruhi pertumbuhan ekonomi global, harga komoditas, sentimen risiko, kondisi geopolitik, arus modal, dan neraca perdagangan. Oleh karena itu, Kar Yong Ang menyarankan agar trader tidak hanya mengandalkan analisis teknikal, tetapi juga memahami kondisi fundamental untuk perspektif investasi yang lebih komprehensif.