AchmadNurHidayat.ID — Ketua Dewan Gubernur The Federal Reserve, Kevin Warsh, menyatakan perkembangan investasi di bidang kecerdasan buatan (AI) berpotensi memberi dampak besar pada arah kebijakan suku bunga. Pernyataan itu disampaikan dalam Forum Bank Sentral di Sintra, Portugal, dan menjadi sinyal penting bagi investor yang memegang saham dengan ekspektasi peningkatan produktivitas.
Warsh mengaitkan lonjakan belanja modal (capex) di sektor AI dengan kemungkinan perubahan pada sisi penawaran ekonomi. Menurutnya, cara dinamika ini berkembang akan memengaruhi kebijakan moneter yang saat ini masih dikalkulasi pasar.
“Kejutan AI memicu lonjakan belanja modal. Kita melihat dampak itu pertama dan terutama pada sisi permintaan, tetapi saya yakin kita juga akan melihat dampaknya pada sisi penawaran (supply) pada saatnya nanti,” ujar Warsh.
Dorongan Investasi Dan Perubahan Bauran Laba
Warsh menyoroti perbedaan siklus saat ini dibanding periode sebelumnya yang lebih didominasi oleh rekayasa keuangan dan aksi buyback. Kini, dunia usaha melakukan investasi nyata pada pusat data, cip, dan infrastruktur energi—sebuah upaya yang menurutnya memperluas kapasitas produktif ekonomi.
Data korporasi mendukung narasi itu. Laba domestik perusahaan nonkeuangan mencapai US$ 2.971,1 miliar pada kuartal I-2026. Sektor informasi mencatat laba US$ 352,5 miliar, naik dari US$ 265 miliar dua tahun sebelumnya. Laba manufaktur barang tahan lama menyentuh US$ 452,9 miliar, yang menggambarkan aktivitas pabrik dalam mendukung infrastruktur AI.
Indikator Makro Dan Ketegangan Di Pasar Tenor
Laporan PDB kuartal I-2026 menunjukkan pertumbuhan 2,1% dengan investasi swasta bruto melonjak 7,9%, sedangkan konsumsi rumah tangga melambat menjadi 0,5%. Warsh menilai pertumbuhan saat ini didorong oleh belanja modal korporasi, sesuai pengamatannya.
Namun, dari sisi upah, kenaikan belum tampak. Upah riil rata-rata per jam berada di angka 11,24 pada Mei 2026, hampir tidak berubah sejak Desember 2024. Sementara itu, indikator inflasi favorit The Fed, Core PCE, tercatat naik hingga 130,08 pada Mei 2026, level tertinggi dalam 12 bulan terakhir—menandakan narasi disinflation belum sepenuhnya nyata.
Dampak Pada Portofolio Dan Sinyal untuk Kebijakan
Saat ini The Fed mempertahankan suku bunga acuan (Fed Funds Rate) di level 3,75% selama tujuh bulan terakhir, setelah penurunan total 75 basis poin sepanjang tahun lalu. Di pasar obligasi, imbal hasil 10 tahun tercatat 4,38% dengan selisih antara tenor 10 tahun dan 2 tahun menyempit menjadi 0,30% dari puncak 0,74% pada Februari 2026.
Warsh mengatakan jika belanja modal AI benar-benar terwujud menjadi peningkatan produktivitas riil, The Fed akan memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga tanpa memicu inflasi kembali. Situasi itu menguntungkan saham-saham pertumbuhan berdurasi panjang. Sebaliknya, jika dampak penawaran terlambat atau tidak muncul, lonjakan belanja modal bisa menambah tekanan permintaan dan membuat suku bunga tetap tinggi lebih lama (higher-for-longer).
“Kami menghabiskan sebagian besar waktu kami untuk memantau perkembangan ini,”
Warsh menambahkan The Fed akan menilai ulang kondisi tersebut dalam sekitar empat minggu, menjadikan pertemuan FOMC bulan Juli sebagai titik fokus bagi pasar yang sensitif terhadap sentimen AI.
Pernyataan Warsh di Sintra menegaskan bahwa bank sentral kini tidak hanya mengamati data inflasi konvensional, tetapi juga secara cermat mempertimbangkan seberapa cepat adopsi teknologi AI dapat meningkatkan efisiensi pasokan global—faktor yang akan menentukan apakah pelonggaran moneter dapat dilanjutkan atau pasar harus bersiap menghadapi periode suku bunga tinggi yang lebih lama.
Ikuti AchmadNurHidayat.ID
