Rupiah Mengalami Pelemahan Terhadap Dolar AS Akibat Sentimen Global
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mengalami tekanan hingga melemah dalam sepekan terakhir dan menembus level psikologis Rp18.000 pada perdagangan Jumat, 10 Juli 2026. Berdasarkan data kompilasi pasar spot dan Bloomberg, mata uang Garuda sempat ditutup menguat harian di kisaran Rp18.045 hingga Rp18.065 per dolar AS, namun mencatat akumulasi penurunan sekitar 0,55 persen hingga 0,56 persen selama satu minggu terakhir.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso menjelaskan bahwa tekanan eksternal dipicu oleh arah kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed yang tetap mempertahankan sikap hawkish.
"Kombinasi sinyal hawkish pejabat The Fed dan menguatnya DXY ke level tertinggi dalam satu tahun terakhir membuat mata uang sejumlah negara, termasuk rupiah, tertekan terhadap dolar AS," kata Ramdan Denny Prakoso, Direktur Executif Departemen Komunikasi BI.
Bank Indonesia terus berupaya mengoptimalkan bauran kebijakan serta mengintervensi pasar secara intensif guna menjaga stabilitas nilai tukar domestik dari guncangan pasar global.
"Kita melihat perkembangan rupiah relatif masih termasuk baik dibandingkan negara-negara berkembang lainnya," kata Ramdan Denny Prakoso, Direktur Executif Departemen Komunikasi BI.
Otoritas moneter menyatakan optimisme bahwa nilai tukar dapat kembali bergerak stabil melalui koordinasi yang kuat antarlembaga terkait.
"Kita berharap ke depan rupiah perlahan menguat terhadap dolar AS. Tentunya diperlukan sinergi semua pihak," ujar Ramdan Denny Prakoso, Direktur Executif Departemen Komunikasi BI.
Sementara itu, Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menyoroti pentingnya aliran dana masuk dari luar negeri untuk mempertebal cadangan devisa dan menopang posisi mata uang nasional.
"Indonesia masih membutuhkan tambahan arus modal asing yang cukup besar agar keseimbangan neraca pembayaran semakin kuat. Oleh karena itu kita tidak boleh cepat berpuas diri," kata Fakhrul Fulvian, Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia.
Dari sisi pengamatan ekonomi, Ibrahim Assuaibi menilai bahwa defisit pada neraca perdagangan serta situasi geopolitik di Timur Tengah ikut membebani pergerakan rupiah.
"Neraca perdagangan di bulan Mei ini mengalami defisit US$1,61 miliar. Ini menandakan kebutuhan impor minyak mentah cukup besar sehingga terjadi defisit," ujar Ibrahim Assuaibi, Pengamat Ekonomi.
Ketegangan antara AS dan Iran yang kembali memanas juga mendorong peningkatan premi risiko pada jalur pelayaran komersial internasional.
"Perusahaan-perusahaan asuransi mulai mengevaluasi kembali risiko pelayaran setelah meningkatnya serangan di kawasan tersebut," kata Ibrahim Assuaibi, Pengamat Ekonomi.
Ibrahim memproyeksikan fluktuasi nilai tukar masih akan membayangi pasar keuangan domestik selama ketidakpastian eksternal belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
"Selama sentimen domestik dan global belum mereda, tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih akan berlanjut," pungkas Ibrahim Assuaibi, Pengamat Ekonomi.
Di belahan pasar Asia lainnya, mata uang yuan China justru menunjukkan ketahanan setelah bank sentral mereka menetapkan kurs referensi harian di bawah batas tertentu.
"Sepertinya PBOC merasa nyaman membiarkan yuan terus menguat terhadap dolar AS," kata Fiona Lim, Senior FX Strategist di Malayan Banking Bhd.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow