Rupiah Melemah ke Rp 17.941 per Dolar AS pada 7 Agustus 2026
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali tertekan pada pembukaan perdagangan Jumat, 7 Agustus 2026, seperti dilansir dari Investor Daily.
Berdasarkan data pasar spot exchange Bloomberg pada pukul 09.05 WIB, mata uang Garuda dibuka melemah sebesar 18 poin atau setara 0,10 persen ke posisi Rp 17.941 per dolar AS.
Pelemahan ini terjadi setelah rupiah sempat mengalami penguatan tipis pada penutupan perdagangan hari sebelumnya, Kamis, 6 Agustus 2026.
Pada penutupan hari Kamis tersebut, nilai tukar mata uang Indonesia menguat 10 poin atau sekitar 0,06 persen menuju level Rp 17.923 per dolar AS.
Sementara itu, pergerakan dolar AS secara global menunjukkan penguatan terhadap yen Jepang pada perdagangan Kamis waktu setempat, sebagaimana dikutip dari Channel News Asia.
Kenaikan mata uang Paman Sam tersebut didorong oleh aksi para investor yang terdorong berburu aset aman atau safe-haven.
Langkah perburuan aset aman ini dilakukan pelaku pasar sembari menantikan perkembangan terbaru dari konflik geopolitik di wilayah Iran.
Selain isu geopolitik, ketidakpastian jelang rilis laporan bulanan ketenagakerjaan di Amerika Serikat turut mempengaruhi keputusan para pemodal.
Sebelumnya, greenback sempat mengalami tekanan hebat hingga terseret ke titik terendah dalam periode 13 minggu terhadap mata uang yen Jepang.
Penurunan tajam tersebut dipicu oleh langkah intervensi bersama yang diluncurkan oleh otoritas keuangan Jepang dan Departemen Keuangan Amerika Serikat.
Namun, nilai tukar yen Jepang kemudian terpantau berbalik melemah sebesar 0,44 persen hingga menyentuh posisi 158,45 per dolar AS.
Capaian tersebut menandai tren penguatan mata uang dolar AS terhadap yen yang telah berlangsung selama tiga sesi perdagangan secara berturut-turut.
Prospek Pasar dan Sentimen Global
Dinamika yang terjadi di pasar valuta asing juga mendapat perhatian dari para analis internasional mengenai faktor penentu pergerakan mata uang.
"Adanya kemungkinan kabar baik mengenai gencatan senjata atau kesepakatan di Teluk Persia, yang disertai penurunan harga minyak dan faktor lainnya telah mengurangi sebagian premi dolar AS. Suasana pasar hari ini sangat tenang karena para pelaku pasar sedang menantikan hasil data non-farm payrolls pada hari Jumat," ujar John Velis, ahli strategi valuta asing dan makro di BNY.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow