AchmadNurHidayat.ID — Nilai tukar rupiah kembali mengalami pelemahan pada penutupan perdagangan Kamis, 2 Juli 2026. Pada sore hari itu, rupiah ditutup melemah 43 poin ke level Rp 17.995 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di Rp 17.950 per dolar AS.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan salah satu pemicu pelemahan ialah rilis data Purchasing Managers’ Index (PMI) Indonesia oleh S&P Global yang menunjukkan angka 46,9 pada Juni 2026.
“Ini adalah tingkat penurunan yang paling kuat dalam setahun, pesanan baru yang masuk kembali menurun menyebabkan penurunan volume output terbesar sejak bulan April 2025,”
Ibrahim menambahkan bahwa kepercayaan pelaku pasar terhadap Indonesia mendapat tekanan setelah sejumlah sentimen negatif muncul memasuki kuartal II.
“Kepercayaan pelaku pasar terhadap Indonesia dinilai menghadapi ujian cukup berat setelah munculnya sejumlah sentimen negatif memasuki kuartal II, mulai dari kasus korupsi tingkat tinggi, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal pemerintah setelah neraca perdagangan indonesia bulan Mei defisit, Inflasi melonjak hingga penundaan pengumuman tentang pasar modal Indonesia oleh penyedia indeks global MSCI,”
Faktor Eksternal
Dari sisi eksternal, rupiah melemah meski Iran dan AS dilaporkan membuat kemajuan dalam pembicaraan tidak langsung terkait Selat Hormuz. Kondisi pasar juga dipengaruhi oleh ekspektasi suku bunga global.
Menurut Ibrahim, pasar saat ini mencatat probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 67% pada pertemuan September, mengacu pada alat ukur pasar yang dipantau pelaku usaha.
Perhatian Terhadap Data Tenaga Kerja AS
Perhatian pasar beralih ke rilis data Nonfarm Payrolls AS yang dijadwalkan malam itu. Ibrahim menyebutkan ekspektasi pasar bahwa ekonomi AS akan menambah 110.000 pekerjaan, sementara tingkat pengangguran diperkirakan tetap di 4,3%.
“Perhatian pasar saat ini beralih ke rilis data Nonfarm Payrolls AS nanti malam, dengan ekspektasi bahwa ekonomi AS akan meningkatkan angkatan kerjanya sebesar 110.000. Sementara Tingkat Pengangguran diperkirakan tetap tidak berubah di 4,3%,”
Ikuti AchmadNurHidayat.ID
