AchmadNurHidayat.ID — Nilai tukar rupiah berpotensi kembali menguat pada pembukaan perdagangan Senin, 6 Juli 2026, setelah pada perdagangan Jumat sore rupiah mencatat penguatan tipis.
Pada penutupan Jumat (3/7/2026), rupiah menguat 32 poin ke level Rp 17.963 per dolar AS, membalikkan penurunan sebelumnya yang sempat menempatkan kurs pada Rp 17.995 per dolar AS.
Perkiraan Perdagangan Mingguan
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan mata uang rupiah akan berfluktuasi pada perdagangan Senin namun berpeluang ditutup menguat di kisaran Rp 17.910–Rp 17.970.
Untuk sepekan ke depan, Ibrahim memproyeksikan rentang pergerakan rupiah antara Rp 17.850 hingga Rp 18.100 per dolar AS.
Faktor Eksternal Yang Mempengaruhi
Ibrahim menjelaskan penguatan rupiah terjadi di tengah perhatian investor pada perkembangan negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah serta dinamika arus minyak mentah Teluk.
“Sinyal yang beragam membuat risiko geopolitik tetap menjadi perhatian para pedagang, bahkan ketika kekhawatiran akan gangguan langsung terhadap pasokan minyak mentah Teluk terus mereda,” katanya.
Selain itu, rilis data ketenagakerjaan AS turut memengaruhi sentimen pasar. Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) melaporkan penambahan 57.000 pekerjaan pada Juni, jauh di bawah ekspektasi 110.000, sementara data penggajian Mei direvisi turun menjadi 129.000 dari 172.000.
Data Non Farm Payroll yang lebih lemah tersebut membantu meredam ekspektasi pasar terhadap pengetatan kebijakan moneter oleh Federal Reserve.
Faktor Domestik
Dari sisi domestik, Ibrahim menyebut penguatan rupiah juga mengikuti rilis OECD Revenue Statistics in Asia and the Pacific 2026 yang menunjukkan penerimaan pajak atas penghasilan, laba, dan keuntungan modal nyaris stagnan dibandingkan tahun sebelumnya.
“Data OECD menunjukkan penerimaan pajak penghasilan hanya naik dari Rp 1.061,24 triliun pada 2023 menjadi Rp 1.061,94 triliun pada 2024. Kenaikannya hanya sekitar Rp 700 miliar atau setara 0,07% secara tahunan. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan total penerimaan pajak Indonesia,”
Pada periode sama, total penerimaan pajak tercatat naik dari Rp 2.517,66 triliun menjadi Rp 2.620,67 triliun, atau bertambah sekitar Rp 103 triliun.
Proyeksi rentang dan faktor-faktor yang disebutkan menunjukkan pasar masih memantau kombinasi sentimen eksternal dan data domestik untuk menentukan arah rupiah dalam beberapa hari mendatang.
Ikuti AchmadNurHidayat.ID
