— Harga emas di pasar spot kembali menguat setelah berbulan-bulan tertekan. Pada perdagangan Jumat (3/7/2026), emas spot naik 1,4%, menempatkan logam mulia itu pada jalur kenaikan mingguan pertama dalam lima pekan.

Hingga pukul 04.30 waktu timur AS (ET), emas spot diperdagangkan di sekitar US$ 4.182,28 per ons dan menuju penguatan mingguan sekitar 2,3%. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman bulan depan juga naik sekitar 1,5%.

Data Tenaga Kerja AS Jadi “Dewa Penyelamat”

Kebangkitan harga emas kali ini berkaitan langsung dengan rilis data ketenagakerjaan AS. Data Nonfarm Payrolls menunjukkan penambahan hanya 57.000 pekerjaan pada Juni 2026, turun dari 129.000 pada Mei dan jauh di bawah perkiraan 115.000 menurut konsensus analis Dow Jones.

Angka yang lebih lemah ini membuat investor mengurangi taruhan terhadap kenaikan suku bunga The Fed. Menurut alat FedWatch milik CME, probabilitas kenaikan suku bunga pada September turun menjadi 53,5% dari perkiraan sebelumnya sekitar 65%.

Respons pasar terlihat pada permintaan aset logam mulia. Selain emas, perak spot naik 2,9% ke US$ 62,77 per ons — melonjak 6,7% dalam sepekan. Platinum menguat 2,8% ke US$ 1.660,10, sedangkan paladium naik 1% menjadi US$ 1.280,09.

Para analis OCBC menilai prospek emas mulai direspons dengan optimisme hati-hati. “Emas bisa melanjutkan pemulihannya jika data ekonomi AS terus menekan imbal hasil riil dan dolar AS. Namun, karena risiko inflasi global belum sepenuhnya hilang, investor tetap perlu waspada terhadap pergerakan taktis jangka pendek,” tulis mereka dalam catatan resmi.

Latar Belakang Tekanan Tahun Ini

Sepanjang 2026, harga emas sempat tertekan oleh kekhawatiran inflasi tinggi, penguatan dolar AS, dan kebijakan moneter yang agresif dari sejumlah bank sentral menyusul pecahnya perang AS-Iran. Pada kuartal II (April–Juni), emas mencatat kuartal terburuk dalam 13 tahun.

Saat ini harga emas masih turun sekitar 22% dari rekor tertinggi yang sempat menembus lebih dari US$ 5.300 per ons pada Januari 2026. Dua tahun terakhir juga diwarnai fluktuasi tajam: pada 2025 emas dan perak mencatat reli besar, masing-masing naik 66% dan 135% sebelum tren berubah awal 2026.

Perubahan tajam pasar terjadi sejak akhir Januari–Februari 2026, ketika kontrak berjangka perak mengalami kejatuhan harian terbesar sejak era 1980-an. Konflik militer antara AS dan Iran turut merubah dinamika pasar. Meski diasosiasikan sebagai aset safe haven, emas sempat kehilangan daya tarik saat pasar memilih aset lain seperti dolar AS dan obligasi dengan imbal hasil tinggi karena lonjakan inflasi energi.