Rhenald Kasali Ingatkan Lulusan UI Hadapi Tantangan AI

Smallest Font
Largest Font

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Prof Rhenald Kasali memberikan pesan penting mengenai tantangan era kecerdasan buatan kepada ribuan peserta wisuda UI di Gedung Balairung UI Depok, Jawa Barat, Jumat (21/8/2026), dilansir dari Detikcom.

Dalam paparannya, Rhenald menegaskan bahwa kepemilikan gelar sarjana, master, hingga doktor tidak lagi menjadi jaminan pasti atas kesuksesan karier seseorang. Ia menekankan krusialnya pendorong internal dalam diri setiap lulusan untuk terus memperbarui pengetahuan mereka.

"Hari ini kita menyaksikan pertarungan saudara adalah menghadapi orang-orang yang curious, orang-orang yang mencari pengetahuan sendiri, yang memiliki apa yang disebut sebagai self-driving mentality. Mentalitas bergerak karena inisiatif, karena adanya curiosity," kata Rhenald Kasali, Guru Besar FEB UI.

Selain masalah keahlian dasar, fenomena gangguan manusia atau human disruption juga menjadi perhatian utama karena kemajuan teknologi telah mengubah identitas hingga kecepatan kerja manusia secara mendasar. Tanpa pengembangan kemampuan yang konsisten, para lulusan perguruan tinggi terancam kalah bersaing dengan efisiensi sistem AI.

"Human disruption adalah ketika teknologi mengubah apa yang bisa dilakukan oleh manusia, sekaligus mengubah persepsi, identitas, kecepatan, dan segala hal yang melekat pada manusia itu sendiri," ungkap Rhenald Kasali, Guru Besar FEB UI.

Gaya hidup digital juga disinggung sebagai salah satu pemicu utama turunnya daya fokus, terutama akibat terpaan algoritma media sosial yang terus-menerus memicu distraksi.

"Apa saja yang telah diubah oleh teknologi itu? Yang pertama adalah attention atau perhatian saudara-saudara. Hari ini sambil saudara mendengarkan para guru besar, saudara membuka ponsel saudara. Dan begitu saudara membuka ponsel saudara, saudara pun terdistraksi karena algoritma," kata Rhenald Kasali, Guru Besar FEB UI.

Lebih lanjut, Rhenald memeringatkan para wisudawan agar tidak menghentikan proses belajar hanya karena telah meraih nilai akademis tinggi atau gelar formal.

"Kalau saudara sekolah hanya sekadar untuk mendapatkan ijazah, dan kemudian saudara merasa selesai walaupun saudara menjadi wisudawan terbaik dengan IPK 3.98 maka saudara selesai pada hari meini. Sementara teman-teman saudara yang IPK-nya di bawah itu akan mengatakan 'saya baru memulainya'," katanya Rhenald Kasali, Guru Besar FEB UI.

Fenomena munculnya inovator tanpa latar belakang pendidikan formal tinggi turut dihadirkan sebagai bukti konkret persaingan di lapangan. Salah satu contoh yang disinggung adalah praktisi mandiri seperti pedagang ikan hias yang mampu mengedit DNA secara swadaya hingga menandingi kualifikasi pemegang gelar PhD.

"Para sarjana tengah asyik mencari pekerjaan, tengah asyik membuat CV, sementara mereka (praktisi mandiri) mengembangkan produk-produk baru dan diam-diam menciptakan pasar," tutur Rhenald Kasali, Guru Besar FEB UI.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed