Prof Marsetio Sarankan Tempe Diajukan Jadi Warisan Budaya Takbenda UNESCO

Smallest Font
Largest Font

Penasihat Khusus Mendiktisaintek, Laksamana TNI (Purn) Prof Dr Marsetio menyarankan tempe diajukan sebagai Warisan Budaya Takbenda asal Indonesia di UNESCO. Saran ini disampaikan usai acara Talkshow Ragi Nusantara di Antara Heritage Center, Jakarta, Rabu (2/9/2026).

Menurut Marsetio, Indonesia sudah diakui memiliki 16 Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO, namun belum ada makanan yang masuk daftar tersebut. Ia mencontohkan beberapa warisan budaya seperti Kolintang, Angklung, Kebaya, Keris, Reog Ponorogo, dan Tenun yang sudah diakui.

Saran ini menguatkan upaya pemerintah yang telah mengajukan tempe sebagai Warisan Budaya Takbenda dalam dua tahun terakhir, sebagai bentuk pengakuan terhadap kekayaan budaya pangan Indonesia.

Marsetio menyoroti risiko jika tempe tidak segera diajukan, karena dapat diklaim oleh negara lain. Ia menyebut saat ini tahu sedang diklaim sebagai warisan Jepang dan Cina, dan literatur tentang tempe banyak ditemukan di Belanda, berpotensi menjadi klaim negara tersebut.

"Komunitas perlu kita ajak agar mengajukan tempe sebagai Warisan Budaya Takbenda dunia yang nanti diakui oleh UNESCO. Ini mengangkat derajat bangsa Indonesia," ujar Marsetio.

Senada dengan itu, Peneliti Program Bestari Saintek dan Ilmuwan UI, Prof Wellyzar Sjamsuridzal menegaskan pentingnya pengajuan tempe karena Indonesia memiliki pengetahuan lokal dan biodiversitas terkait proses pembuatannya.

"Menurut saya penting, karena Indonesia punya biodiversitasnya dan punya pengetahuan lokal tentang proses pembuatan tempe. Jadi itu yang sebenarnya hak dari negara kita," kata Welly.

Welly menjelaskan bahwa saat masa penjajahan Belanda, banyak tanaman dan produk fermentasi dari Indonesia yang dibawa ke Belanda, termasuk koleksi mikroba seperti kapang Rhizopus yang menjadi modal koleksi mikroba terbesar di sana.

Namun, koleksi kapang Rhizopus di Indonesia tidak terpelihara dengan baik karena masyarakat kurang menganggap penting penyimpanan mikroorganisme itu.

"Karena tiap hari kan kita bikin tempe, apa yang disimpan? Padahal dengan adanya perubahan iklim, tidak semua mikroorganisme itu mampu survive. Jadi ada jenis-jenis yang memang tidak tahan dengan terjadinya pemanasan global," ujar Welly.

Welly mengingatkan jika pelestarian mikroorganisme yang berperan dalam fermentasi tradisional tidak dilakukan, ragi tradisional dari tape bisa hilang dalam waktu 10 tahun.

"Segera sebaiknya kita meningkatkan usaha pelestarian mikroorganisme dari tradisional fermented food kita, karena itu modal kekuatan bangsa untuk kedaulatan pangan kita," tegas Welly, seperti dilansir dari Detikcom.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed