Piala Dunia 2026 Segera Berakhir, Ini Pihak yang Paling Diuntungkan Finansial

Smallest Font
Largest Font

Momen puncak Piala Dunia 2026 mempertemukan Argentina dan Spanyol pada laga final. Di luar ketatnya persaingan di lapangan hijau, perputaran uang bernilai miliaran dolar terjadi sepanjang turnamen, meski keuntungan finansial tersebut tidak dirasakan oleh semua pihak.

Dikutip dari Detik Finance, Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) menjadi institusi yang paling mendulang keuntungan finansial terbesar. Lembaga otoritas sepak bola global ini mengantongi pendapatan masif dari berbagai sektor komersial.

Ahli strategi senior di Deutsche Bank Research, Marion Laboure, mengungkapkan bahwa FIFA merupakan pemenang finansial utama dalam siklus kompetisi ini. Pendapatan badan sepak bola tersebut diproyeksikan mendekati US$ 13 miliar atau setara Rp 232 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.900.

Sektor penopang dana tersebut mencakup penjualan hak siar televisi, hak lisensi, layanan perhotelan, kemitraan sponsor, hingga tiket pertandingan.

"FIFA juga memasuki pasar sekunder melalui platform penjualan kembali resmi mereka, dengan mengambil biaya sebesar 15% dari pembeli maupun penjual," tambah Laboure.

Lonjakan profit ini dipicu oleh penambahan kuota kontestan menjadi 48 tim. Skala turnamen juga meluas karena diselenggarakan di tiga negara, yaitu Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat, tanpa kendala pembatasan kesehatan seperti pada edisi 2022 di Qatar yang menghasilkan US$ 7,6 miliar.

Peluang keuntungan komersial juga dinikmati oleh perusahaan penyiaran dan sponsor resmi melalui penjualan slot iklan. Kebijakan jeda hidrasi selama tiga menit bagi pemain di tengah laga menjadi ruang baru untuk menampilkan merek komersial di layar kaca.

Jaringan televisi Fox Sports di Amerika Serikat dilaporkan membayar US$ 485 juta demi hak siar domestik. Mereka memanfaatkan jeda komersial khusus tersebut dengan dukungan sponsor.

Menurut perkiraan para ahli, tarif iklan durasi 30 detik di saluran Fox berkisar antara US$ 200 ribu hingga US$ 300 ribu atau sekitar Rp 3,5 miliar sampai Rp 5,3 miliar. Biaya iklan tersebut bahkan melonjak hingga US$ 750 ribu atau setara Rp 13,4 triliun saat tim nasional Amerika Serikat bertanding di fase gugur.

"Jeda hidrasi pada dasarnya merupakan inventaris iklan. Saya akan sangat terkejut jika itu dihapus. Format turnamen yang diperluas akan tetap dipertahankan karena skala kini menjadi model bisnis FIFA," kata Laboure.

Selain lembaga penyiaran, produsen perlengkapan olahraga seperti Nike dan Adidas mencatat lonjakan permintaan seragam tim nasional hingga dua kali lipat dibanding edisi sebelumnya. Jersey Inggris dan Meksiko menjadi produk paling diminati di pasar global melalui jaringan retail olahraga besar seperti JD Sports.

Sebaliknya, kelompok suporter sepak bola justru menanggung beban finansial paling berat akibat melambungnya harga tiket masuk stadion. Penerapan sistem harga dinamis oleh FIFA membuat tarif masuk semakin mahal ketika permintaan pasar melonjak tinggi.

Tiket resmi untuk laga final di Stadion MetLife, New Jersey, dipatok pada harga US$ 32.970 atau berkisar Rp 590 juta. Sementara itu, nilai penjualan di pasar sekunder atau pihak ketiga tercatat menembus angka lebih dari US$ 2 juta atau setara Rp 35,8 miliar.

Presiden FIFA Gianni Infantino memberikan pembelaan terhadap kebijakan tarif tersebut. Ia menilai bahwa penentuan harga tiket telah diselaraskan dengan standar industri hiburan dan ajang olahraga besar lain di Amerika Serikat.

Beban bagi para penggemar semakin bertambah menyusul tingginya tarif penerbangan, akomodasi penginapan, dan transportasi lokal. Salah satunya ditunjukkan lewat kenaikan harga tiket kereta New Jersey Transit menuju area stadion yang melonjak menjadi US$ 150 dari tarif normal pulan-pergi yang hanya US$ 12,90.

Di sisi lain, kontribusi ekonomi bagi 16 kota penyelenggara di tiga negara dinilai tidak signifikan dalam jangka panjang. Proyeksi FIFA yang menyebutkan stimulus senilai US$ 41 miliar bagi ekonomi global dan penciptaan 185.000 lapangan kerja baru mendapat tanggapan kritis dari akademisi.

Peneliti praktik manajemen di Universitas Oxford, Alexander Budzier, menyatakan bahwa keuntungan ekonomi jangka panjang bagi daerah setempat sering kali tidak terwujud dalam realitas lapangan.

Menurutnya, area perkotaan di sekitar lokasi pertandingan cenderung mengalami penurunan kunjungan pelancong umum yang memilih menghindari kepadatan arus massa. Lapangan kerja baru yang tercipta juga umumnya bersifat jangka pendek dan didominasi oleh sektor perhotelan dengan upah rendah.

"Ajang ini menciptakan lapangan kerja, tetapi tidak menciptakan kekayaan," ujar Budzier.

Faktor infrastruktur transportasi, kompleks latihan, serta stadion yang digunakan mayoritas merupakan fasilitas yang sudah tersedia sebelumnya. Kondisi tersebut meminimalkan dampak pembangunan ekonomi baru bagi kota pelaksana.

Kelesuan hasil juga dirasakan oleh pelaku industri akomodasi di Amerika Serikat. Asosiasi Hotel dan Penginapan Amerika (AHLA) menengarai adanya kesalahan proyeksi volume pemesanan kamar oleh FIFA yang memicu munculnya permintaan semu di pasar.

Berdasarkan data Deutsche Bank Research, fenomena serupa pernah terjadi saat perhelatan di Prancis pada tahun 1998 lalu. Sebanyak 80% pelaku usaha perhotelan di Amerika Serikat melaporkan realisasi okupansi kamar berada di bawah target awal mereka.

"Pada bulan April, 80% operator hotel di Amerika Serikat mengatakan bahwa tingkat pemesanan masih berada di bawah proyeksi awal mereka. Dua pertiga pengelola hotel di New York melaporkan pemesanan yang lebih lemah dari perkiraan, dan di Seattle hampir 80% mengalami hal yang sama," papar Laboure.

Kondisi pasar tersebut membuat sebagian besar pelaku bisnis penginapan lokal mengategorikan turnamen sepak bola akbar ini sebagai agenda yang minim dampak bagi pertumbuhan bisnis mereka.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed