Pertamina Patra Niaga Diminta Antisipasi Gangguan Distribusi BBM Musim Kemarau
Pekerja mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar ke dalam tangki di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Nelayan (SPBUN) Pelabuhan Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, belum lama ini. (ANTARA FOTO/Nirza)
JAKARTA, investor.id – PT Pertamina Patra Niaga diminta mengantisipasi potensi gangguan distribusi bahan bakar minyak (BBM) selama musim kemarau, terutama di wilayah yang masih mengandalkan jalur sungai. Penurunan debit air dan pendangkalan sungai dinilai berisiko menghambat pasokan BBM hingga memicu kelangkaan di sejumlah SPBU apabila tidak dimitigasi sejak dini.
Pengamat Kebijakan Energi, Sofyano Zakaria, mengingatkan PT Pertamina Patra Niaga untuk mewaspadai dampak musim kemarau terhadap kelancaran distribusi bahan bakar minyak (BBM), khususnya di daerah yang mengandalkan transportasi sungai.
Menurut Sofyano, penurunan debit air dan pendangkalan sungai selama musim kemarau berpotensi menghambat distribusi BBM. Kondisi tersebut dapat menyebabkan keterlambatan pasokan hingga mengganggu ketersediaan BBM di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
“Musim kemarau tidak boleh sampai berubah menjadi krisis distribusi BBM. Di sejumlah daerah, sungai merupakan jalur utama pengangkutan BBM. Ketika debit air turun drastis, kapal tanker maupun ponton tidak dapat beroperasi secara normal sehingga distribusi BBM berpotensi terlambat dan pada akhirnya mengganggu pasokan di SPBU,” ujar Sofyano dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (28/7/2026).
Ia menjelaskan, wilayah yang berpotensi terdampak antara lain daerah yang dilayani melalui Sungai Kapuas beserta anak sungainya di Kalimantan Barat menuju Sanggau, Sintang, Melawi, hingga Kapuas Hulu.
Risiko serupa juga mengancam distribusi melalui Sungai Mahakam di Kalimantan Timur, Sungai Barito di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, Sungai Kahayan, Sungai Katingan, Sungai Musi di Sumatera Selatan, serta sejumlah sungai di wilayah pedalaman Papua.
Menurut Sofyano, kondisi sungai yang dangkal dapat memaksa kapal mengurangi muatan, memperpanjang waktu distribusi, meningkatkan biaya logistik, hingga memicu kekurangan stok BBM di daerah terpencil.
Karena itu, ia meminta Pertamina Patra Niaga memperkuat langkah mitigasi sejak awal musim kemarau dengan menambah cadangan (buffer stock) di Fuel Terminal maupun SPBU yang berada di wilayah rawan.
Selain itu, Pertamina juga didorong meningkatkan pemantauan kondisi sungai secara berkala melalui kerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Kementerian Perhubungan, pemerintah daerah, serta otoritas pelayaran agar perubahan debit air dapat diprediksi lebih dini.
“Pertamina juga harus menyiapkan jalur distribusi alternatif melalui transportasi darat apabila jalur sungai tidak lagi dapat dilalui, mengoperasikan kapal atau ponton dengan draf lebih rendah, serta memperkuat sistem pemantauan stok BBM secara digital agar setiap potensi kekurangan pasokan dapat segera direspons,” tegasnya.
Ia juga menilai simulasi penanganan gangguan distribusi BBM di wilayah rawan perlu dilakukan secara berkala untuk memastikan koordinasi antara Pertamina, pemerintah daerah, aparat keamanan, operator transportasi, dan pengelola SPBU berjalan efektif ketika terjadi kondisi darurat.
“Ketahanan energi nasional bukan hanya ditentukan oleh ketersediaan stok BBM, tetapi juga oleh kemampuan menyalurkannya kepada masyarakat. Oleh sebab itu, musim kemarau harus diperlakukan sebagai risiko logistik nasional yang wajib dimitigasi sejak dini agar masyarakat tetap memperoleh pasokan BBM secara aman dan berkelanjutan,” pungkas Sofyano.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow