Peneliti Identifikasi Fosil Kodok Purba Zaman Es di Los Angeles

Smallest Font
Largest Font
Table of Contents
[ Show ]

Fosil kodok purba yang ditemukan di Los Angeles pada 1929 lalu akhirnya berhasil diidentifikasi oleh para peneliti. Spesies amfibi tersebut diketahui berasal dari Zaman Es, yaitu sekitar 2,58 juta hingga 11.700 tahun silam, seperti dilansir dari Detikcom.

Penemuan fosil ini berlokasi di La Brea Tar Pits, Los Angeles, tepat pada sebuah genangan aspal alami. Proses penggalian di area tersebut turut mengungkap tulang-tulang spesies purba lain, seperti mamut raksasa, mastodon, harimau bertaring tajam, dan serigala purba.

Tim peneliti mengidentifikasi dua fosil berbeda yang tergolong dalam spesies kodok berkaki sekop (spadefoot) atau Spea labreae, sp. nov.. Bagian yang teridentifikasi merupakan fragmen sacro-urostyle, yaitu penghubung antara tulang belakang bagian bawah dan pinggul.

Struktur tulang kodok yang kecil serta rapuh ini tetap utuh karena terlindungi oleh aspal alami. Media cairan aspal tersebut efektif mencegah pembusukan, pelapukan, paparan sinar matahari, air, oksigen, aktivitas mikroba, hingga serangan predator. Bahkan, lalat yang hinggap di lubang aspal akan langsung terperangkap.

Identifikasi dilakukan dengan membandingkan fosil kecil ini bersama spesimen lain. Hasilnya menunjukkan bahwa ukuran fragmen sacro-urostyle milik kodok ini jauh lebih kecil dibandingkan spesies sejenis lainnya.

Perbedaan ukuran tersebut menjadi petunjuk penting bahwa fosil ini merupakan spesies yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Peneliti utama studi, Dr. J. Alberto Cruz, membandingkan temuan ini dengan 80 spesies dari Herpetology Collections di Natural History Museum of Los Angeles County serta Museum of Vertebrate Zoology di University of California, Berkeley.

"Jadi, ini adalah spesies baru pertama saya. Bagi saya, ini sangat menarik," ucap Cruz, dikutip dari CNN Sains.

Migrasi dan Indikator Perubahan Iklim

Spesies kodok spadefoot yang ditemukan ini sebenarnya berasal dari wilayah Amerika Utara. Cruz menjelaskan bahwa satwa ini kemungkinan bisa berpindah dari habitat aslinya karena iklim prasejarah Los Angeles kala itu mirip dengan iklim hutan hujan.

"Amfibi sensitif terhadap perubahan iklim karena mereka sangat bergantung pada badan air, curah hujan, dan suhu untuk bertahan hidup dan bereproduksi. Oleh karena itu, fosil mereka dapat membantu para ilmuwan memprediksi seperti apa iklim di masa depan melalui bidang paleobiologi konservasi, yang menggunakan bukti dari ekosistem prasejarah untuk menginformasikan upaya konservasi modern," papar Cruz.

Peneliti lain, Dr. Emily Lindsey, mengibaratkan kodok purba ini seperti mesin waktu untuk memahami dinamika perubahan iklim dari masa ke masa. Fosil di Los Angeles ini memungkinkan ilmuwan merekonstruksi kondisi masa lalu.

"Kita bisa memutar balik waktu dan melihat apa yang terjadi, lalu menggunakan itu untuk membuat prediksi tentang bagaimana segala sesuatunya akan terus berubah," ujarnya.

Di samping faktor iklim, Cruz menambahkan bahwa terdapat kemungkinan adanya faktor eksternal lain yang membuat kodok tersebut keluar dari habitat aslinya, yang menjadi topik menarik untuk kajian berikutnya.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed