AchmadNurHidayat.ID — Nilai tukar rupiah diperkirakan kembali memasuki fase pelemahan terhadap dolar AS pada perdagangan Jumat, 3 Juli 2026. Prediksi itu disampaikan oleh analis yang memantau perkembangan pasar menjelang rilis data ekonomi utama.
Pada penutupan perdagangan Kamis (2/7/2026), rupiah tercatat melemah 43 poin ke level Rp 17.995 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp 17.950 per dolar AS. Proyeksi pergerakan besok dipatok bergerak fluktuatif namun dengan kecenderungan melemah.
Perkiraan Rentang Perdagangan
“Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.990 – Rp 18.050,” ujar Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, dalam keterangan yang dirilis pada Kamis (2/7/2026).
Faktor Penggerak Pelemahan
Ibrahim menyebut beberapa faktor yang mendasari perkiraan berlanjutnya pelemahan rupiah. Pertama, data Purchasing Managers’ Index (PMI) yang dirilis S&P Global menunjukkan PMI Indonesia berada di 46,9 pada Juni 2026, yaitu tingkat penurunan terkuat dalam setahun.
Selain itu, lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings memperkirakan cadangan devisa Indonesia pada 2026 hanya mampu membiayai sekitar 4,9 bulan kebutuhan pembayaran eksternal berjalan. Angka ini sedikit di bawah median negara berperingkat BBB yang mencapai 5 bulan.
“Menurut Fitch, penyusutan cadangan devisa terutama dipicu oleh memburuknya terms of trade akibat kenaikan harga energi global, intervensi BI di pasar valuta asing untuk menopang rupiah, serta pembayaran utang luar negeri,” tutur Ibrahim.
Ibrahim juga mencermati sentimen domestik yang menekan kepercayaan pelaku pasar. Beberapa sentimen negatif yang disebut antara lain kasus korupsi tingkat tinggi, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal setelah neraca perdagangan Indonesia pada Mei tercatat defisit, lonjakan inflasi, serta penundaan pengumuman tentang pasar modal Indonesia oleh penyedia indeks global MSCI.
Pengaruh Eksternal dan Fokus Pasar
Dari sisi eksternal, Ibrahim mengatakan rupiah melemah meski ketegangan antara AS dan Iran sedikit mereda setelah kedua pihak mencatat kemajuan dalam pembicaraan tidak langsung terkait Selat Hormuz.
Pasar kini mengalihkan perhatian pada rilis data Nonfarm Payrolls AS yang dijadwalkan malam ini. “Perhatian pasar saat ini beralih ke rilis data Nonfarm Payrolls AS nanti malam, dengan ekspektasi bahwa ekonomi AS akan meningkatkan angkatan kerjanya sebesar 110.000. Sementara Tingkat Pengangguran diperkirakan tetap tidak berubah di 4,3%,” tambah Ibrahim.
Ikuti AchmadNurHidayat.ID
